02/05/2005
Nyobain Jalan
Kemaren, aku dan suami menghadiri acara family gathering yang diselenggarakan oleh Telkom di Senayan. Wah, cuaca cerah dan udara pun segar. Enak buat jalan pagi dan sedikit menggerakkan badan bersama Fahmi, instruktur senam yang biasa nongol di Anteve, yang kebetulan hadir pada acara tersebut.
Karena matahari sudah beranjak naik, menandakan hari semakin siang, kami memutuskan untuk meninggalkan Senayan. Ooow, hari Minggu ya, hampir lupa. Pantesan aja jalanan sepi. Kemana ya enaknya?.
"Uji coba jalan Tol Sadang-Bandung, dibuka untuk umum", sekilas kubaca tulisan di samping Tol Semanggi. Wah, apa salahnya nih dicoba...
Akhirnya kami meluncur memasuki Tol Semanggi terus menuju Tol Pondok Gede Timur terus dan terus sampai pintu keluar Sadang. Eh, kok lanjut... terus dan terus dan terus... Waow, udah nyambung ternyata. Walaupun jalannya masih sangat kasar dan finishing yang belum sempurna. Banyak pekerja2 dan material2 berserakan di pinggir jalan. Dan juga karena masih baru, belum ada tempat istirahat.
Oh My Gosh... pemandangannyaaaaaaaaaa... Subhanallah deh, indaaaaaaaaaahhh buangeeet. Kanan kiri tampak kebun teh dan tampak dari kejauhan pegunungan yang saat itu diselimuti kabut tipis, dibawahnya terhampar tebing2. Masya Allah, sungguh indah.
Tak terasa pintu keluar Pasteur tinggal 500m lagi. Cepet banget yaks, tadi masuk Tol Semanggi jam menunjukkan pukul 08.35, sekarang jam baru menunjukkan pukul 09.20... heeeiii, cuma 2 jam jek ke Bandung!!!!!. Waaaaa, kabar gembira ini harus segera kusampaikan ke temen and sahabat2 ku neh. Langsung aja aku SMS mbak Mei dan angk 17. Sambutan mereka macem2, ada yang bilang aku ketinggalan berita lah, norak lah, ada juga yang langsung ngajak jalan minggu depan. Respon mbak Mei lain lagi, "cita2 kita terkabul dong bisa PP ke Bandung for shopping...", jawabnya via SMS.
Dari Pasteur, kami menuju Punclut di daerah Ciumbeuleuit (bener gak yah tulisannya). Iseng aja jalan kaki naek ke bukit sambil liat orang jualan macem2. Ada kelinci besar dan bulunya jembrong, gemeeesss pisan. Saung2 nasi timbel berjejeran, menyebarkan aroma masakan khas sunda yang bikin lidah menari dan perut berbunyi. Slruuuppp.....
Hanya setengah jam kami di Punclut, kemudian langsung menuju Cisangkuy untuk menikmati segarnya Yoghurt Strawberry special Lychee... hmmm,,, zegggaaarrr... Tak lupa kami mencicipi serabi panas yang dibuat dari tepung beras dan dimasak menggunakan tungku tanah liat. Disekitar Gasebu, banyak dijual makanan2 tradisional yang tidak dijumpai di Jakarta.
Hmmm, huaaahhhmmm,,, nguantuuuk jek. Pulang ke rumah aaah... Lho kok disekitar Pusda'i macet, Pasar Suci, ada rame2, ada yang bawa kamera segala... Ada apaan?. Ternyata lagi ada shooting reality show "uang kaget". Oooh...
Belok kiri, menuju TMP Cikutra, mentok ke kiri 100m, terus ke kanan masuk jalan Cukang Kawung. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di rumah mungil kami. Kayak mimpi yah, tadi jam 07.00 masih di Jakarta, sekarang jam 10.00 udah di Bandung.
Jalan Tol itu, dibangun untuk menyambut 50th Konferensi Asia Afrika. Lumayanlah, meskipun terkesan sangat dipaksakan, tapi sangat menguntungkan buat kita orang Indonesia, terutama buat yang suka weekend ke Bandung, bisa memperpendek jarak dan waktu.
06:25 Posted in Travel | Permalink | Comments (0) | Email this
08/04/2005
Journey with Kids

Hari ini aku menuju ke Ciwidey (lagi). Bedanya, sekarang jalan dengan anak2, sedangkan minggu lalu hanya berduaan aja. Nyupir sendiri bo' sampe atas. Mana si Rifdy muntah2 lagi... Wah, bener2 repot. But, i enjoy it.
Pergi sama anak kecil, rame juga. Banyak hal yang mereka tanyakan, apa ini apa itu, kenapa begini, kenapa begitu... Capek juga aku njelasinnya. Tapi, mereka harus tau dan ngerti tentang sesuatu hal yang baru mereka jumpai. Kalo bukan aku yang ngasih tau, kemana lagi mereka mencari jawaban?. Bukankah seorang ibu adalah first teacher for the kids?.
Sesampainya di atas, kami langsung menuju tempat rapat papa mereka di Walini. Ternyata rapatnya belum usai. Jadi, kami menunggu sejenak. Tak lama, rapat pun selesai dan kami melanjutkan perjalanan ke Situ Patenggang. Suasana sangat sepi, karena memang bukan hari libur. Kami hanya foto2.
Setelah itu, kami menuju Kawah Putih. Minggu lalu, aku gak sempat masuk ke dalam. Tapi sekarang, kami menuju ke lokasi yang jaraknya 5,6 km dari pintu masuk. Aku berusaha memberi pengertian ke anak2 tentang bagaimana kita harus selalu mensyukuri nikmat Allah dan mengagumi ciptaan-Nya. Subhanallah, pemandangan sungguh sangat indah...
Kok bisa gitu ya, ada kawah besar warnanya putih. Karena mengandung belerang. Tak ketinggalan pula, karena pemandangan yang sangat indah ini, aku juga numpang mejeng berdua suami...
Aku capeeek sekali, sepanjang perjalanan pulang ke Bandung, aku terlelap tak sadarkan diri di mobil. Ku biarkan suamiku mengemudi. Begitu juga dengan anak2ku, mereka tertidur pulas di pangkuanku. Keluar tol Pasteur, kami menyempatkan diri untuk makan siang.
Alhamdulillah, journey with kids nya lancar2 aja. Insya Allah, besok pagi2 kami pulang menuju Jakarta.
12:30 Posted in Travel | Permalink | Comments (0) | Email this
07/04/2005
Weekend again, Bandung again
Again Bandung
Wow, hari ini aku udah di Bandung lagi, pekerjaan yang lumayan menyita waktu, tapi bener² mengasyikkan dan sangat kunikmati. Cozzzz, one of my hobbies is travelling and Alhamdulillah match with my job.
Sudah 2 hari ini suamiku berada di luar kota, karena harus rapat kurikulum menjelang tahun ajaran baru. 2 hari ini pula aku menjadi single parent, ngapa²in sendiri, karena aku memang gak mau merepotkan dia, gak mau membuat pikirannya bercabang.
Decision Maker
Hhmm... cukup sulit mengambil keputusan dalam rumah tangga. Kemaren, 2 anakku sakit. Tanpa kompromi, aku langsung membawanya ke dokter. Karena diare, jadi yang kecil dilarang minum susu oleh dokter, trus... bagaimana kalo laper?. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk memberikan susu khusus untuk penderita diare. Sebenernya itu menyalahi aturan dokter, tapi mau bagaimana lagi?
Tadi pagi, aku juga mengambil keputusan yang lumayan sulit. Karena suatu pekerjaan, aku harus ke Bandung. Tapi aku gak tega ninggalin anak2. Kuputuskan untuk mengajak 2 anakku yang besar ke Bandung, padahal mereka harus sekolah. Tapi aku gak tega melihat si sulung merengek ingin jalan².
Apa boleh buat, terpaksa mereka kucabut dari sekolahan. Untungnya tak lama kemudian, suamiku menelpon dan langsung setuju dengan rencana ku. Alhamdulillah...!!!
Sekitar jam 11.00 an, aku berangkat menuju Bandung by Innova with my kids. Gile bo' aku bener2 nekat. Nyupir sendiri jek!!!, luar kota lagi... It's my wonderfull experience. Super nekat tenaaan...
Alhamdulillah, perjalanan sangat lancar, gak ada macet and gak hujan juga. Hanya sedikit menjelang masuk tol Padalarang.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, sore hari aku udah sampai di villa Bandung dengan selamat. Weekend again, Bandung again...
14:45 Posted in Travel | Permalink | Comments (0) | Email this
04/04/2005
Kembali ke Jakarta
Hari ini aku masih di Bandung. Rencananya siang nanti kami kembali ke Jakarta. Tidak banyak aktivitas yang kami kerjakan hari ini, hanya tidur2an saja. Seolah tiada beban, padahal 4 buah hati kami menunggu di Jakarta
Setelah sholat Dzuhur, kami bersiap2 untuk segera pulang ke Jakarta. Siang ini udara Bandung terasa sangat panas menyengat. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan. Sesampainya di jalan tol, hujan lebat mengguyur. Sempat khawatir juga, karena jalanan licin dan jarak pandang hanya sekitar setengah meter.
Dengan terus membaca shalawat, kami berdua santai melewati hujan yang semakin lama semakin lebat.
Sesampainya di Padalarang, kami berhenti di sebuah restoran untuk makan siang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Saking laparnya, kami berdua lahap menyantap sayur asem, tempe goreng, sambel+lalap. Suasana kala itu masih hujan lebat.
Sepanjang perjalanan, hujan terus mengguyur. Kami memutuskan untuk via Puncak. Selain jalanan tampak lengang, suasana pun lebih nyaman, karena tidak dijumpai truck2 besar seperti apabila via Purwakarta.
Waktu Maghrib tiba, dan kami sholat di masjid di Cisarua. Aku sempatkan untuk mampir ke tokonya Emil, yang terletak tidak jauh dari masjid. Kemudian, Emil bertemu suamiku di masjid, salaman dan saling menanyakan kabar.
Setelah sholat, kami langsung menuju Jakarta, tanpa berhenti lagi. Hujan masih mengguyur hinggak keluar tol Pondok Indah. Sekitar jam 20.00, Alhamdulillah kami sampai di rumah dengan selamat...
16:50 Posted in Travel | Permalink | Comments (0) | Email this
03/04/2005
Weekend's Story

Perjalanan cukup santai, cuaca juga sangat cerah. Udah lama sekali aku gak lewat Puncak, kangen juga sama Rindu Alam, Masjid Atta'awun, jagung bakar+sekoteng pinggir jalan Puncak Pass. Kami sempat berhenti sejenak untuk melepas kangen sama sekoteng, lumayan juga, saking rindu dendamnya, aku sampai menghabiskan hampir 2 mangkok.Perjalanan sungguh sangat mengasyikkan, santai dan tidak terburu2. Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, sekitar jam 23.00, mobil kami meluncur keluar tol Pasteur menuju Cikutra. Disana udah menunggu 'our small villa'. Letaknya di town house, sebuah komplek mungil terdiri hanya 10 rumah saja. Sangat nyaman untuk ngumpet... Berhubung sangat lelah, kami langsung tertidur pulas...
Go to Ciwidey
Minggu pagi yang cerah. Memang kami gak punya rencana apa2 selama di Bandung, hanya di rumah saja. Tapi, enak juga nih kalo jalan2 ke luar kota, itung2 nambah pengalaman dan sambil mengagumi keindahan alam ciptaan Allah. Akhirnya, kami putuskan jalan ke Ciwidey. Daerah wisata Ciwidey adalah merupakan daerah tujuan wisata yang cukup lengkap di bagian selatan Kabupaten Bandung. Disamping Pangalengan dengan obyek wisata Cileunca-nya, terdapat pula argo wisata Malabar dan obyek2 wisata lainnya.
Di perjalanan, aku tertarik oleh perkebunan strawberry. Aaaw... norak ya, aku takjub melihat buah strawberry bergelantungan indah dan sangat menarik. Kukira, pohon strawberry hanya ada di luar negri doang, eh gak taunya aku menjumpai nya disini. Aku sempat membeli seperempat kilo, buat iseng2 ngemil. Dan lagian, aku juga kurang suka dengan strawberry, hanya gemes aja ngliatnya...
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan hingga ke atas. Tujuan kami adalah Situ Patenggang, yang kata orang2 terdapat danau dan pemandangan yang sangat indah. Situ Patenggang yang memiliki luas areal 150 hektar adalah merupakan tujuan utama para pengunjung obyek wisata daerah Ciwidey. Terletak diantara perkebunan teh dan kawasan hutan Rancabali. Situ Patenggang benar2 memanfaatkan keindahan alam sebagai daya tariknya. Fasilitas yang tersedia antara lain ; bungalow, sepeda air, sampan, kios2 cinderamata, makanan, minuman, WC umum dan areal parkir. Tetapi, sangat disayangkan, keadaannya kurang terawatDari Situ Patenggang, kami menuju pemandian air panas Walini. Obyek wisata ini berada di lingkungan perkebunan teh yang berhawa sejuk nan segar. Walini memanfaatkan melimpahnya sumber air panas alam dengan menyediakan kolam renang air panas yang cukup bersih. Selain itu, tersedia pula bungalow, restoran dan tempat bermain anak2.
Selanjutnya, kami menuju obyek wisata Kawah Putih. Obyek wisata ini belum lama diresmikan untuk dapat dinikmati oleh umum. Sebelumnya, Kawah Putih dikenal sebagai daerah tambang belerang. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan yang terdapat di areal wisata, yaitu berupa gua penambangan belerang.
Sebenarnya, masih cukup banyak tempat2 wisata yang harus dikunjungi di daerah Ciwidey. Sepanjang jalan, terhampar luas keindahan panorama perkebunan teh Rancabali. Hamparan pepohonan teh yang tertata rapi, dengan udara yang sejuk segar menjanjikan kesan bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke daerah wisata Ciwidey.
Setelah lelah seharian menyusuri daerah Ciwidey, sore menjelang malam kami pulang ke villa kami di Bandung dan langsung terlelap...
13:45 Posted in Travel | Permalink | Comments (0) | Email this
22/03/2005
Road to Tidore part IV ( the end )
TUNGGULAH AKU DI JAKARTA MU... ( 14-03-05 )
Senikmat2nya negri orang, lebih enak negri sendiri... Hari ini adalah hari terakhirku di P. Tidore. Pagi2 buta jam 04.00 WIT (02.00 WIB), kami menyebrangi lautan Maluku dengan speedboat menuju Ternate. Demi Allah, seumur hidupku, baru kali ini aku merasakan betapa maut sangat dekat dengan urat nadiku. Bisa dibayangkan, andai saja speedboat kami tenggelam... Astaghfirullah.
Menepi di Bastiong, kami sudah dijemput Pak Min (sopir ibu Opi) dan langsung menuju bandara Baabullah. Di perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menunaikan sholat subuh. Disini aku mengalami kejadian yang sangat tidak enak. Di tengah hujan lebat, karena panggilan alam, aku mencari WC dan... oh my Gosh, sangat suliiit... tidak ada WC dimana2. Akhirnya aku mengetuk pintu rumah penduduk. Alhamdulillah, lega...
Terus, pas aku hendak sholat, tiba2 pengurus masjid mengusirku. Katanya, wanita tidak boleh sholat di dalam masjid... lho ?!!!. Akhirnya aku dibawa ke sebuah ruangan sempit dan pengap. Aku dipersilakan sholat disitu. Gubrak... aku menggerutu ke suamiku, kok peraturannya melebihi negeri Arab !!!
Sampai di bandara, kami tidak begitu lama menunggu pesawat. Weleh... jenis pesawat apalagi ini ???. Pesawat mungil dengan baling2... untuk kedua kalinya aku mengalami ketakutan yang sangat. Tujuan kami adalah Manado.
Hanya 45 menit terbang, kami mendarat di bandara Sam Ratulangi, Manado. Hari masih pagi, dari Ternate kami terbang jam 07.05 WIT dan sampai di Manado jam 07.05 WITA. Kami memutuskan untuk city tour. Dari bandara kami menuju restoran yang menjual bubur Manado. Kata orang2, di Manado harus mencicipi 3B : Bubur Manado, Bunaken Manado dan Bibir Manado. Ups... !
Kota yang tenang dan cukup bersih. Tidak ada demo macam2. Kebetulan hari ini mendung, jadi menambah kenyamanan dan udara terasa sejuk.
Hmmm... bubur Manado, lezat dimakan dengan Cakalang Fufu dan Pene (sejenis bakwan teri). Aku cukup menikmatinya, tapi tidak dengan suamiku. Dia menolak bubur yang disajikan panas2 dan kelihatan tidak berselera. Dia hanya minum teh panas, sambil sesekali mencicipi Pene goreng.
Setelah puas menikmati bubur, kami keliling kota sambil menunggu jam buka toko2 yang menjual souvenir. Kami menuju suatu tempat pinggir pantai, aku lupa namanya, nun jauh diseberang nampak P. Bunaken. Waow... indahnaaa... kami sempat mengambil beberapa gambar disana.
Kemudian kami menuju ke toko souvenir untuk membeli beberapa cindera mata untuk keluarga. Disini aku menjumpai beberapa camilan khas Manado, diantaranya Halua Kenari, enak, manis, terbuat dari kenari yang disalut karamel... hmmm, ada juga Klappertaart, taart buah blasteran Manado-Belanda...
Setelah berbelanja, kami kembali menuju bandara. Ketika itu jalan menuju bandara akan ditutup, karena bertepatan dengan kedatangan wapres Jusuf Kalla.
SITOU TIMOU TUMOU TOU, sebuah tulisan dengan bahasa Manado yang terpampang di pintu masuk bandara, sangat menarik perhatianku. Kurang lebih artinya adalah, "khoirunnaas yanfa'uhum linnaas", sebaik2 manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain...
Dengan pesawat Boeing 747, kami menuju Jakarta dengan diselingi transit di Makassar selama 30 menit. Setelah melalui perjalanan sangat panjang, akhirnya kami sampai juga di Jakarta, Alhamdulillah. "Tunggulah aku di Jakartamu, di pelabuhan semua mimpimu..."
08:55 Posted in Travel | Permalink | Comments (1) | Email this
21/03/2005
Road to Tidore part III
EVERYTHING FISH !!! ( 12-03-05 )
Hari keduaku di Soasio, telinga dan lidahku sudah mulai bisa diajak kompak. Logat dan bahasanya terdengar lucu. "kita orang" disingkat jadi "torang" disingkat lagi jadi "tong", "tarada"="tidak ada", "saya"="iya". Pantesan aja dari tadi aku diajak ngomong sama ibu-ibu, mereka selalu menjawab "saya". Ooo... rupanya artinya "iya". hehehehe.....
Hari ini acaraku adalah belajar masak makanan khas Tidore. Makanan pokok mereka adalah sagu, dan lauk pauknya mayoritas menggunakan ikan. Everything Fish !... enak kok, dagingnya tebal-tebal dan always fresh. Untungnya torang sangat suka ikan...
Ada Rica Isi, paprika diisi daging ikan cincang dicampur dengan kenari tumbuk, terus digoreng tepung... slruuup. Ada tulang ikan Cakalang bumbu pedas dicampur air jeruk... huah... huah... sampe merem melek deh...
PULAU UANG SERIBU
Ya !, kayaknya jadi kebanggan tersendiri buat mereka. P. Tidore terlukis di lembaran uang RP. 1000, berdampingan dengan P. Maitara. Subhanallah, bayangkan... didepan mata, aku melihat sendiri terbentang beberapa pulau, diantarnya P. Halmahera, P. Ternate, P. Mare dan masih banyak lagi. Seperti di lukisan-lukisan gitu loh...
Aku menyusuri jalan menuju daerah Ome dengan menggunakan mobil. Perjalanan dari Soasio sekitar setengah jam. Sepanjang jalan, aku menjumpai masjid-masjid berdiri megah dan kokoh. Hampir setiap 500 meter terdapat masjid. Menurut informasi yang aku peroleh, penduduk P. Tidore 100% muslim. Alhamdulillah...
Dan yang menarik perhatian, setiap rumah atapnya menggunakan seng, bukan genteng. Alasannya, harga satu buah genteng bisa untuk membeli 5 lembar seng...
GO TO TERNATE ( 13-03-05 )
Dua hari di Soasio, membuatku jenuh. Maklum, di Jakarta aku terbiasa window shopping. Akhirnya, aku memutuskan ke Ternate dengan diantar Ibu Opi dan sopir setianya,Pak Is. Jam 09.00, mereka menjemputku di Seroja dan langsung menuju Rum, pelabuhan kecil di Tidore yang menghubungkan dengan beberapa pulau sekitar. Speedboat yang membawa kami agak sedikit oleng karena hempasan ombak besar yang disebabkan oleh angin yang sangat kencang. Aku agak ngeri juga...
Duapuluh menit kemudian, kami tiba di Bastiong dan sudah dijemput Pak Min, sopir Ibu Opi yang lainnya. Oh ya, Ibu Opi adalah istri Pak Haji Hijrah yang masih sangat muda dan cantik.
Dari Bastiong kami menuju ke pasar Gamalama, ke sebuah toko yang menjual makanan oleh2 khas Ternate. Ada kue yang terbuat dari sagu, namanya Bagea, rasanya aneh, gurih2 hambar. Katanya dimakan sembari minum teh hangat manis. Ada lagi kue Makron, terbuat dari sagu dicampur kenari. Yang ini rasanya renyah, aku suka.
Kami menyusuri jalan Gamalama. Disana banyak penjual asesoris dari perak. Mereka menyebut dengan Besi Putih. Bagus kualitasnya dan harganya cukup murah. Tetapi, modelnya kurang menarik. Aku memborong 5 gelang rantai dan 1 gelang etnik.
Setelah itu kami menuju daerah Kulaba, disana terdapat Batu Angus yang merupakan kumpulan batu2 hitam semburan lahar dari gunung Gamalama. Astaghfirullah... "idzaa zulzilatil ardhu zil zaalahaa, wa akhrajatil ardhu asqaalahaa, wa qaalal insaanu maa lahaa, yauma'idzin tuhadditsu akhbaarahaa, bi anna rabbaka auhaa lahaa..." (Al Zalzalah 1-5)
Kemudian kami menuju pantai Sulamadaha, Subhanallah... sungguh indah pemandangannya. Didepannya terlihat P. Hiri, salah satu bagian dari Tidore Kepulauan. Tidak jauh dari situ, terdapat danau Tolire. Danau indah dengan air berwarna hijau. Konon, asal mula terjadinya danau ini adalah amblasnya sebuah desa lengkap dengan penduduk2nya, yang disebabkan oleh suatu kejadian seorang ayah yang memperkosa anak kandungnya. Setiap pengunjung, selalu disodori batu2 untuk dilempar ke dalam danau. Tapi anehnya, meskipun dilempar sejauh2nya, batu tersebut tidak pernah muncul, alias hilang entah kemana, wallahua'lam...
Selanjutnya kami mampir di pantai Ave dan pantai Bobone Ici, Subhanallah... aku sampai menahan nafas... betapa sempurna ciptaan Allah... pemandangannya sangat bagus dan indah. Tampak P. Maitara sangat jelas. P. Maitara merupakan penjaga pintu masuk P. Ternate&P. Tidore.
Setelah puas seharian mengitari P. Ternate, kami pun kembali ke Tidore. Di pelabuhan Rum, kami sempat membeli nasi Jaha. Nasi yang dibungkus bambu dan dibakar... hmmm... enak rasanya, gurih.
14:15 Posted in Travel | Permalink | Comments (8) | Email this
20/03/2005
Road to Tidore part II
SOASIO, THE HIDDEN PLACE
Iiih... nggak ada sinyal bo'. SEROJA, penginapan kecil seperti rumah penduduk biasa. Yang penting ada AC nya. Dan dibelakang penginapan, pemandangannya sangat indah. Kita bisa memandang langsung laut lepas yang diseberangnya tampak P. Halmahera. So romantic...
Tadi siang kami makan ikan Surihi (ikan khas Tidore) plus sambal dabu-dabu. Hmmm... nyam... nyam... nikmatnyaaa... kayaknya aku bakal ketagihan.
Sorenya kami keliling kota Soasio, ibukota Tidore Kepulauan ini sangat nyaman, sepi karena memang penduduknya sedikit. Jalan utama cuma ada satu. Nggak ada lampu merah, pom bensin, restoran, supermarket apalagi mall. Yang ada hanya pasar Sarimalaha, pasar tradisional yang menjual sayur mayur dan kebutuhan pokok lainnya. Saking kecilnya nih kota, keliling2 hanya butuh waktu kurang lebih 1 jam. Tampak disekitar adalah laut yang dihiasi beberapa pulau dan tampak pula gunung2 menjulang tinggi. Subhanallah... sungguh indah...
Setelah istirahat sejenak, malamnya kami silaturahmi ke rumah Haji Hijrah, salah seorang putra daerah yang sukses dengan berbagi macam usaha. Istrinya yang manis, tampak masih kelihatan muda. Nggak lama kemudian, kita disuguhi bermacam2 penganan khas Tidore.
Wah, makanan jenis apalagi nih?, sejenis bolu berlapis2 yang tiap lapisnya dioles selai gula merah+kacang. Namanya lapis Tidore. Ya, karena adanya di Tidore, kalau adanya di Surabaya namanya pasti lapis Surabaya, hehehe... hmmm, lumayan rasanya, tapi lihat bentuknya, sudah kenyang. Adalagi Lalampa, sejenis lemper bakar yang isinya ikan Cakalang... wah, sedaaap... (ngiler gak ded...)
1 New Message : "jd ngiri bc sms jejak ilfi the explorer, br aja mau mbayangin, tau2nya dah moving to another hidden place. hehehe, anggep aja bulan madu!".
Banyak kujumpai kebiasaan2 aneh, tapi cukup masuk akal juga. Setiap angkot, pasti volume musiknya sangat keras. Setelah aku tanyakan, katanya, karena kalau volume musiknya nggak keras, penumpang nggak ada yang mau naik!. Oooh... hoho... gitu tho !
Adalagi makanan aneh, namanya GOHU. Terbuat dari ikan Cakalang mentah dicampur dengan sambal dabu-dabu dan dimakan dengan sagu. Hmmm... rasanya gimana, wallahu a'lam...
06:15 Posted in Travel | Permalink | Comments (0) | Email this
19/03/2005
Road to Tidore part I
THE EXPLORER ( 11-03-05 )
Jam 03.00 pagi aku sudah berada di bandara Soekarno-Hatta. Brrr... dingiiin... nanti terbang jam 05.00 ke Ternate via Makassar. Katanya, dari Ternate masih nyebrang lagi pake speedboat. Auw... nice adventure maybe. Kepalaku masih agak sedikit pusing, semaleman nggak bisa tidur.
Di dalam pesawat, aku melihat keluar jendela... masih gelap. Nggak lama kemudian, Subhanallah... bagusnaaa pemandangan, langit memerah, menyongsong fajar. Subhanallah, maha suci Allah. Jadi inget ESQ nya Ary Ginanjar : "dan apabila langit telah terbelah menjadi merah mawar bagaikan (kilapan) minyak, maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Arrahman, 37-38). Iiih... merinding... sambil terus mengucap Subhanallah, aku terlelap...
"Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di bandara Hasanuddin Makassar...". Oooh panasnaaa. Padahal jam baru menunjukkan pukul 08.34 WITA (07.34 WIB). Kami langsung menuju Executive Lounge. "Apa ini mbak?". "Ini namanya SARABA, minuman khas Makassar. Terbuat dari santan, gula merah dan jahe". Ooo, kalo di Puncak, namanya Bandrek. Hmmm... enak, lumayan bisa ngangetin perut.
Hanya butuh waktu 30 menit menunggu pesawat yang akan membawa kita ke Ternate. Alhamdulillah... nggak begitu lama. (Uuuh... Fokker, sempit bangeeed... sampe nekuk2 nih kaki. Lumayan juga 2 jam an...)
13.00 WIT : bandara Sultan Baabullah Ternate. Bandara kecil, seperti stasiun Tanah Abang. Suasananya agak sedikit rame. Wah, ternyata mereka sedang rebutan bagasi yang diangkut pakai mobil Kijang pick up. hehehe... Waow, panas bangeeet, nggak kebayang 3 hari kedepan.
Aku norak banget gitu loh. dari tadi minta di foto setiap mendarat di satu bandara, dan harus kelihatan tulisannya... wahaha. Suamiku sampai bingung. Katanya, nanti tiketnya sekalian aja di laminating !. Puannnasss... sangat panas. Mengutip ayat Al Quran "Siiru fil Ardh", jadi... enjoy aja.
Dari Baabullah, kita langsung menuju Bastiong, pelabuhan kecil yang menghubungkan dengan P. Tidore. Waaa... speed... kita naek speedboat !!!, huuu... seru !. Perjalanan hanya membutuhkan waktu 30 menit. Dengan kecepatan tinggi, speedboat kami meluncur membelah luasnya Laut Maluku.
09:35 Posted in Travel | Permalink | Comments (1) | Email this

