15/07/2006

Hadapi Dengan Senyuman…

Suatu hari, ibu saya menasehati “dadi wong kuwi kudu sawang sinawang”. Itu istilah dalam bahasa Jawa, yang maknanya kurang lebih begini : Dalam hidup, setiap orang harus selalu memandang, melihat dan memahami orang lain. Baik dalam segi kehidupan, tingkah laku, pergaulan sosial, kesehatan, kekayaan dll. Dalam artian, jangan pernah hanya melihat kekurangan orang lain, bisa jadi di balik kekurangannya, ada kelebihan -begitupun sebaliknya-. Dan hal tersebut juga berlaku bagi diri kita. Kadang kita merasa, bahwa diri kita selaluuu saja ditimpa masalah/musibah.

Akhir2 ini, di sekitar saya banyak yang ditimpa musibah berupa SAKIT. Eh, siapa bilang sakit itu musibah, bisa jadi lho merupakan nikmat dan karunia. Karena dengan diberikan sakit, otomatis kita sedang diingatkan oleh Allah. Supaya lebih bersabar dan tawakkal agar bisa lebih mendekatkan diri padaNYA. Sssaaahhh… bisssa aja.

Kejadian yang paling memukul saya dalam hal sakit yaitu yang menimpa anaknya adik saya. Bayi berusia 6 bulan (pada waktu itu) di vonis terkena kelainan jantung bawaan dan harus di operasi sesegera mungkin secara bertahap sebanyak 3 kali. Ddddduuuhhh… puying aing. Kebayang nggak sih. Dengernya saja sudah nggak connect…

Wah, pada masa2 itu selama pra dan pasca operasi adalah merupakan kejadian yang membuat saya merasa DOWN BANGET sampai titik nadir yang paling rendah. Dan sungguh, selama hidup, saya BARU MERASAKAN rasa itu. Ugh!!!. Pada waktu itu, segala nasehat, masukan apapun, seolah2 bagi saya nggak ada yang berguna dan nggak bermanfaat sama sekali. Nggak ada gairah, keinginan atau kemauan apapun pada diri saya. Saya hanya menginginkan HARAPAN, bagaimana supaya segala penyakit pergi dari diri keponakan saya dan secepatnya sembuh total. Dan saya juga berharap semoga penyakit itu salah alamat yang harusnya terjadi pada makhluk lain. Aneh2 memang pikiran saya saat itu. Kayak kehabisan iman saja. Padahal kan segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluk ciptaan Allah, sudah ada garis takdirnya sendiri2. Astaghfirullah.

Itulah... saya baru sadar nasehat ibu saya. Tapi, kalo boleh milih, setiap manusia diciptakan ya maunya sempurna banget, jangan ada kesusahan sepanjang hidup. Bulshit banget daaah… Nggak mungkin lah. Gini saja, hadapi segala sesuatu dengan senyum.

Kejadian yang paling mengerikan menimpa sahabat saya. Her husband has another wife. Its must be crazy. Segala harta yang berupa materi yang mereka bangun sama2 dari awal menikah, seperti habis ditelan bumi. Padahal, yang berjuang mati2an adalah teman saya, suaminya hanya tinggal menikmati. Pada awal2 kejadian, teman saya itu terlihat sangat stress. Bagaimana tidak, coba bayangkan apabila terjadi pada diri anda, naudzubillah…

Dia hanya bisa berkata, biar saja, Allah sudah menentukan garis hidup seperti ini, kok mau ditawar. Siapa kita… Akhirnya gini saja, hadapi dengan senyuman. Eddaan,,, kejadian kayak gitu kok masih mampu buat senyum.

Ada lagi yang menimpa kerabat dekat saya. Ibunya di vonis menderita kanker yang, wallahu a’lam, sulit untuk disembuhkan. Lha terus pasrah?, ya gitu deh. Segala daya upaya sudah diusahakan dengan berbagai macam cara. Dan sekarang, Alhamdulillah masih mampu beraktifitas sesuai kemampuan.

Suatu hari, saya berbincang dengan seseorang. “Apakah masalah itu ada yang abadi?”, maksudnya gini lho, walau sudah diselesaikan, akan timbul lagi dan timbul lagi dengan masalah yang sama. “Siapa yang menciptakan masalah?, apa mungkin Tuhan tidak hanya menciptakan manusia secara lahiriah saja, tetapi komplit dengan seutuhnya kondisi yang ada pada diri setiap manusia itu?”. Iya kali… Jawaban yang saya dapat adalah “YA”. Bagaimana mungkin hidup ini lurus2 saja tanpa masalah yang menyertai?. Percaya, masalah itu tidak datang dengan sendirinya, disamping itu semua sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Kayaknya, kalo hidup tanpa masalah, nggak ada indah-indahnya deh, nggak ada dinamikanya. Kembali lagi, hadapi dengan senyuman…

Sekali lagi, saya baru menyadari apa arti dari nasehat ibu saya. Jadi orang itu jangan cepat puas dan menyombongkan diri terhadap segala sesuatu yang telah dicapai. Hidup ini hanya sementara dan berputar seperti roda…

Hadapi dengan senyuman, sgala yang terjadi, biar terjadi. Hadapi dengan tenang jiwa, semua ‘kan baik-baik saja. Bila ketetapan Tuhan, sudah ditetapkan, tetaplah sudah. Tak ada yang bisa merubah, dan tak kan bisa berubah. Relakanlah saja, bahwa semua yang terbaik. Terbaik untuk kita semua, menyerahlah untuk menang…

14/07/2006

Nikmati Saja

Anugerah terindah dalam hidup ini adalah NIKMAT. Tuhan memberikan kenikmatan yang luar biasa kepada setiap manusia. So, tinggal manusianya saja yang harus bisa me manage, suatu nikmat itu dapat dirasakan indah atau nikmat yang merupakan sebuah beban.

Sebagai seorang ibu bekerja sekaligus ibu rumah tangga, ada kalanya nikmat itu menjadi suatu beban yang sangat menyiksa tapi harus dijalankan karena semata2 mengharap ridho Allah. Ah masssaaa…Iya tho,,, contohnyaaa, sebenarnya saya lagi kurang enak badan, tetapi apa boleh buat, anak2 saya harus mengikuti study tour yang diadakan sekolahnya. Well, jasmani saya mengatakan, tidak ingin pergi, karena kepala terasa berat dan huh, pasti nanti disana nggak bisa nyaman karena harus berbasa basi ketemu dengan beberapa orang tua murid lainnya. Tetapi, nurani saya merasakan, kalo seandainya anak2 pergi tanpa didampingi oleh saya,,, uhuk uhuk… malah jadi kepikiran sepanjang hari, nanti kalo ada apa2, bagaimana makannya and so on. Walaupun ada ibu guru, tapi masa iya ibu guru hanya memperhatikan anak2 saya saja,,, yang lain kan banyak. Hmmm,,, jadi ya nikmati saja. Kan sudah tugas seorang ibu untuk selalu menjaga anak2nya. Ayyyay…

Seorang kawan lama, saya perhatikan dia sangat menikmati sekali peran sebagai seorang ibu dan istri. Pagi2, antar anak ke sekolah dengan mengendarai mobil sendiri, sesampai di sekolah, dia menyuapi sang anak yang belum sempat sarapan di rumah. Itu kejadian yang terlihat oleh saya, bayangkan deh, pasti ada kejadian sebelumnya. Sebelum berangkat ke sekolah, pasti teman saya itu harus bangun pagi, membereskan rumah, menyiapkan sarapan, membangunkan anggota rumah yang lain, belum lagi mengurus diri sendiri. Mungkin suda terbiasa kali ya, teman saya itu selalu terlihat chic dan energik. So, tidak terlihat pada teman saya itu, menikmati kenikmatan sebagai suatu kewajiban atau siksaan. Enjoy ajaaa.

Ada lagi nikmat yang benar2 nikmat. Yaitu when I feel that my kids growing up better than me,,, hehehe nyadar keadaan ni chuuu… Everything bout kids deh pokoknya. Ketika lagi capek2 nya mikirin kerjaan or facing some problems, tiba2 mendengar anak2  bercanda saling tertawa antar sesama kakak adiknya, ahhhsss senaaang…

It’s a wonderful life, hidup ini hanya sekali dan hanya untuk dinikmati, janganlah dibuat susah dan disengsarakan, karena akan merugi. Seandainya ada sesuatu yang mengganggu kita dalam mengarungi kehidupan, anggap saja merupakan sebuah dinamika, suatu irama kehidupan. Kalo hidup ini datar2 saja, nggak ada tantangan, nggak enak deh kayaknya. Kayak berenang di laut kemudian ketemu gurita, trus nantangin si gurita itu balapan renang, naaah… bunuh diri namanya, hahaha. So, nikmatilah kehidupan ini apa adanya.

Tapi, seandainya sepanjang hidup merasa ada gangguan terus menerus, wah itu  mah harus di ruwat kali. Pasti ada something wrong with u, apakah mungkin diri kitanya yang error, sebab bagaimana mungkin ada asap kalo nggak ada api,,, watchaaa.

Intinya, jangan pernah mengeluh. Bisssaaa adja, apa iya saya juga sudah terlepas dari segala keluh kesah?, tidak juga. Kadang, seseorang apabila mendapatkan sesuatu yang tidak memuaskan dan tidak sesuai dengan keinginannya, wajar dong kalo mengeluh. Manusiawi itu. Begitupun saya, sebagai manusia biasa, apabila ada sesuatu yang masih terlihat kurang baik dan kurang memuaskan yang datangnya dari orang lain maupun diri saya sendiri, otomatis akan mengeluh, kok begini kok  begitu. Gludakkk…

Hmmm,,, dan sesuatu yang paling menyebalkan adalah, ketika saya sudah merasa berbuat sesuatu secara sekuat tenaga untuk mendapat hasil yang memuaskan, eeeh… ada saja orang yang mengeluhkan hasil kerja saya. Wadddaaaow,,,

Ya sudah, nikmati saja. Kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman hati senantiasa berawal dari diri kita yang mampu merasakan nikmat. Diantara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan. Nggak ada ruginya kan kita selalu bergembira. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, produktifitas yang bagus dan keriangan jiwa. Kata orang nih ya, kenikmatan merupakan seni yang dapat dipelajari. Artinya, siapa yang mengetahui cara  memperoleh, merasakan dan menikmati rasa nikmat, maka akan dapat memanfaatkan berbagai kenikmatan dan kemudahan hidup. Jreng…jreng…

Nah, sekarang begini saja, seandaianya ada yang hmmm apa ya, mengganggu or diri kita merasa kurang nyaman, cuekin aja kali. Tau nggak, semakin kuat dan jernih hati seseorang, maka akan semakin bersinar pula jiwanya. Jadi, bangunlah kekuatan dan kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan2, tidak gentar oleh peristiwa2 dan jangan pernah sibuk memikirkan hal2 kecil yang sepele.

Barangsiapa membiasakan jiwanya bersabar dan tahan terhadap segala benturan, niscaya goncangan apapun dan tekanan dari manapun akan terasa ringan. Nikmati saja. (-Mama iLfi-Jakarta, 21 Mei 2006)

 

12/07/2006

I'll Be Over You

Some people live their dreams

Some people close their eyes

Some people's destiny

Passes by

There are no guarantees

There are no alibis

That's how our love must be

Don't ask why

 

It takes some time

God knows how long

I know that I can forget you

 

As soon as my heart stops breakin'

Anticipating

As soon as forever is through

I'll be over you

 

Remembering times gone by

Promises we once made

What are the reasons why

Nothing stays the same

 

There were the nights holding you close

Someday I'll try to forget them

Someday I'll be over you...