11/04/2007
tak mungkin malam selamanya gelap
Kemaren malam, saya dicurhati sahabat saya. Untuk kesekian kalinya dia curhat tentang masalah yang sama. Dia mengeluh, karena dalam kehidupan perkawinannya, dia merasa sudah tidak ada lagi getar-getar dan bunga-bunga cinta. Intinya, selama menikah, dia selalu merasa diperlakukan tidak adil dan selalu tersakiti, bukan secara fisik, melainkan batin.
Heran saya, padahal dia nikah atas dasar cinta dan masa pacaran yang cukup lama. Secara kasat mata, seharusnya dia akan selalu bahagia dan menikmati kehidupan bersama sang tercinta, tapi ternyata sebaliknya. Hmmm… ternyata hidup tak selamanya sesuai rencana. Kata orang, cinta bukanlah apa yang kita temukan, tapi apa yang kita lakukan.
Waktu saya sekolah di pesantren dulu, ada pepatah Arab yang mengatakan : baytu abi khoirun min baytik. Tadinya saya percaya gag percaya, tapi setelah mengarungi hidup sekian lama dan mengalami berbagai masalah, apalagi saya selalu dijadikan shoulder to cry on oleh kawan, sahabat, teman, kerabat, akhirnya saya percaya akan makna dari kata-kata tersebut yang ternyata dalem banget.
Sebenernya, kalo dirasa-rasa, hidup ini indah lho. Ada suka, duka, canda, tawa, sedih, gembira, sakit hati, salah faham, iri, dengki dan sebagainya. Tergantung bagaimana kita mengatur dan menempatkan berbagai persoalan tersebut sehingga semuanya bukan merupakan sebuah beban.
Saya bilang sama sahabat saya tadi, hidup yang di jalani anggap saja seolah-olah kita sedang membuat suatu riset, dimana ditemukan suatu persoalan, tercipta konflik, mencerna permasalahan tersebut kemudian mencari jalan keluar yang akhirnya menjadi win-win solution. Beres kan…
Menurut saya, sekarang tinggal pinter-pinternya kita me menej suatu persoalan. Kalo merasa tersakiti, bagaimana cara mengolah rasa sakit itu menjadi sebuah kenikmatan. Memang sih membutuhkan kejelian yang sangat dan ketelitian tingkat tinggi untuk menjalankannya. Saya juga bilang, bagaimana sebaiknya menjalani hidup tanpa merasakan suatu beban yang berat. Kok bisa?, kembali lagi ke diri kita, cara pandang kita terhadap suatu persoalan hidup, mestinya harus dirubah dulu. Kalo hidup ini dirasakan berat, jangan putus asa.
Saya jadi teringat masa pacaran dulu. Walaupun amat sangat singkat sekali, tapi rasanya seperti melayang, saya tidak pernah merasa lapar dan sering lupa makan. Rambut saya selalu bersinar, kulit bersih dan saya selalu sabar, hangat dan senantiasa ceria. Ketika sedang berjauhan, saya selalu teringat padanya setiap saat dan merasa sangat menderita, sampai kami bisa bersama-sama lagi walau kadang hanya dua-tiga jam. Hidup terasa indah dan waktu berlalu sangat cepat, saat-saat menunggu telepon berdering, mendengar ia mengetuk pintu atau saat tangan kami bersentuhan secara tak sengaja… ehm J
Tapi sekarang, laki-laki yang sama ini hanya akan memberi kado ulang tahun saya ketika saya minta. Dia jarang mengunci kantor yang didalamnya terdapat barang-barang berharga. Dia juga susah sekali diminta untuk mengantar saya shopping di mall. Dia juga sering melarang saya makan coklat kesukaan saya dan dia juga selalu lupa untuk mengembalikan barang-barang pada tempatnya.
Tapi… dia juga laki-laki yang, pada saat saya hendak berdiet, berkata “buat apa?, kau tetap cantik dimataku”. Dia juga suka bangun pada malam-malam dingin untuk menyelimuti saya karena dia selalu tau kalau saya kedinginan. Dia juga mengatakan “akulah yang nanti mendekapmu erat, saat kau berfikir mungkinkah berpaling”, dia juga bilang “akulah yang nanti menenangkan badai saat kau berjalan nanti”. Dia juga yang memberikan seuntai tasbih cantik, agar saya selalu berdzikir, mengingat nama Allah.
Dia mempunyai integritas melebihi siapapun yang saya kenal. Dia bisa selalu diandalkan dalam setiap krisis, selalu tenang, rasional, kuat, sabar dan penuh cinta. Dia memeluk saya ketika ayah saya meninggal, mengelus kepala saya ketika saya sakit dan menggenggam tangan saya, saat saya berjuang melahirkan anak-anak kami. Dan dia jugalah yang mencuri hati saya sejak saat pertama saya melihatnya.
Sekarang, saya sedang asyik dengan my orange notebook saya, menunggu dia pulang dari kantor. Sekilas berkelebat sosok seorang laki-laki gagah, tampan dan gesit. Jalannya tegap, sambil mengangkat kepala dan tersenyum lebar. Sangat memikat. Ayah anak-anak saya. Nama yang melekat di belakang nama saya. Laki-laki yang dulu membuat saya jatuh cinta…
Saya teringat curhatan sahabat saya kemaren. Betapa seharusnya dia mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan, KEBAHAGIAAN. Apalagi yang harus dicari dalam hidup ini selain kebahagiaan?. Dan, bagaimana cara mendapatkannya tanpa ada halangan yang berarti?.
Tak mungkin malam selamanya gelap, masih ada waktu melakukan yang terbaik. Tak ada manusia yang sempurna, cuma hanya bisa melakukan rencana…
15:20 Permalink | Comments (1) | Email this
07/04/2007
saya ketemu salju
Ceritanya, hari ini turun salju di kota London, but im not sure, seluruh London apa hanya di daerah Hendon saja. Tapi yang jelas, SAYA KETEMU SALJU… Satu hal yang paling saya prihatinkan sebenarnya. Saya, yang Insya Allah flexible dan easy going, ternyata TAKUT SALJU.
Pak Riza berkali-kali ngledek saya, sebagai orang Pekalongan, karo salju kok wedhi wong wis biasa diwerui es gosrok… plis deh Pak… I told u, berhubung rumah saya di Pekalongan terletak dekat dengan sungai, lebih baik saya menceburkan diri di sungai dan berenang ber mil-mil daripada di werui SALJU.
Saya langsung mengkeret, ciut nyali saya. Karena apa?, dengan keadaan saya begini, orang-orang pasti akan tambah ngledekin saya dan melihat secara jelas kelemahan saya. Wong biasanya saya beranian, kok ngliat salju jadi pucet… hehehe (Maspri, silakan ledek saya lagi, pasrah saya…)
Hari ini memang sangat dingin, tapi matahari bersinar sangat terik. Saya tidak niat pergi kemana-mana, selain dingin, saya memang malas keluar rumah. Termasuk undangan makan siang di rumah Maspri, saya tolak. Betul-betul malas. Mungkin sudah diatur sama Allah kalo hari ini saya harus diam di rumah.
Siang ini, saya lagi asyik nulis di ruang tamu rumah Pak Riza ditemani my orange laptop. Tiba-tiba Dek Gilang menelpon dan mengabarkan bahwa ada hujan salju. Weleh, saya singkap korden rumah, eh beneran loh… SAYA KETEMU SALJU. Setengah hati, saya senang dan norak karena baru seumur hidup melihat salju. Setengah hati lagi, saya cemas dan takut.
Ketakutan saya bukannya tanpa alasan. Saya sendirian ke London, tanpa ditemani suami. Karena, biasanya kalo saya kedinginan :
1. Kaki saya akan sering kram, dan dengan sabar suami saya akan ngelus-ngelus sampai kaki saya baik seperti semula dan dia akan terus memastikan apakah saya baik-baik saja sampai saya berhenti mengaduh kesakitan. (uuuhmmm… you’re the only one who really knew me at all)
2. Saya akan menggigil kedinginan, dan tanpa diminta, secara otomatis suami saya akan memeluk erat-erat dan akan terus memastikan apakah saya sudah merasakan kehangatan dalam pelukannya. (hmmm…I wanna hold u close, under the rain)
3. Mata saya akan perih, sehingga penglihatan akan sedikit terganggu dan dengan baik hati Papa Yayan akan meneteskan eye drop ke kedua mata saya. (just close your eyes, and you’ll be here with me…)
4. Tubuh saya akan memerlukan sesuatu yang hangat. Alangkah indahnya kalo ada ibu saya yang akan membuatkan wedang jahe panas kesukaan saya.
5. Kulit wajah cantik saya akan mengering, sehingga memerlukan treatment khusus.
Nah, seandainya itu semua terjadi tanpa kehadiran Papa Yayan disamping saya, maka ceritanya akan jadi begini :
1. waktu kaki saya kram, mungkin orang akan mengira kalo saya sedang latihan nendang…
2. ketika saya menggigil kedinginan, bisa jadi orang akan mengira saya sedang latihan dugem dengan alat musik khusus gigi…
3. karena mata saya iritasi dan sering mengedipkan mata, orang akan ke ge-er an ketemu saya, dikira saya genit dan ganjen kurang kerjaan maen kedip atau orang akan mengira saya kelilipan salju
4. berhubung di sini gag ada tukang sekoteng lewat, sepertinya saya harus mempelopori jualan wedang ronde ala bule atau bir pletok ala londo keliling kampung Hendon.
5. hmmm… menyangkut tentang kecantikan, saya akan laris jadi iklan obat jerawat dan pembasmi tai lalat…
Berbanggalah hidup di Indonesia dan nikmati saja. Apabila tidak punya keberanian pergi sendiri ke negara dingin tanpa di dampingi pasangan , mbok ya jangan nekaaat…
London, 19 Maret 2007
(sendirian di rumah Pak Riza di kampung Hendon, KANGEN!!! PENGEN PULANG!!!)
13:51 Permalink | Comments (0) | Email this
06/04/2007
kenapa di Inggris dingin?
Sejak kedatangan saya di Inggris 2 minggu lalu, yang selalu saya rasakan dan menurut saya sangat mengganggu adalah : cuaca. Saya selalu merasa kedinginan. Bisa jadi, karena saya berasal dari negara beriklim tropis dan tidak terbiasa menghadapi udara dingin.
Menurut cerita teman saya, di Inggris jangan pernah percaya kepada “3 W”, yaitu “Woman”, “Weather” dan “Work”. “W” yang pertama dan ketiga, gag saya pikirin. Nah, “W” yang kedua itu yang akan selalu saya pikirkan dan rasakan.
Selama di Inggris, saya memang kemana-mana. Beberapa kota dan daerah saya singgahi, macam-macam saya temui dan banyak yang beda dari sekian tempat yang saya kunjungi. Persamaan nya cuma satu : DINGIN.
Mendarat di Manchester, belum apa-apa saya sudah merasakan itu. Padahal saya sudah well prepare segala sesuatu yang berkenaan dengan baju. Koper saya jadi tebal, tapi tidak berat, karena mayoritas isinya mantel, jacket dan long coat dan sejenisnya untuk mendukung kehangatan saya.
Perjalanan Manchester-Keighley, hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 jam. Saya tiba pagi hari, walau di dalam mobil dalam keadaan hangat, tapi saya bisa membayangkan betapa dinginnya diluar sana. Temperatur di mobil menunjukkan angka 2 drajat celcius, hehehe… hal yang sangat aneh bagi saya.
Selama di Keighley, setiap hari saya memeluk heater di ruang keluarga host family. Si ayah sampai terheran-heran dan sempat komentar, this only for u, if u r not here, we never turn it on. hehehe, kasian ya saya… Pernah suatu hari, saya mencoba membantu nyuci piring. Tuan rumah sudah melarang, tapi karena saya numpang, gag enak kalo diem saja. Apa yang terjadi?, baru megang kran air, saya sudah treak-treak kedinginan. Seluruh rumah menertawakan saya…
Daerah tersebut memang agak sedikit lebih dingin dibanding London , karena terletak di bagian north. Sesekali saya curhat dengan beberapa kerabat dan teman di London tentang kedinginan saya, alih-alih memberi nasehat, malah ada teman yang menyarankan agar saya selalu memeluk kompor dan knalpot apabila masih merasa kedinginan juga… sialan.
Saya juga mengunjungi daerah-daerah sekitar Keighley seperti : Ilkley, Skipton, Bradford, Leeds, Liverpool . Pemandangan yang sungguh sangat indah yang tidak akan saya jumpai di Jakarta. Saya sangat terkesan dengan green field yang diatasnya terhampar domba-domba berbulu tebal putih bersih yang secara khusyuk menyantap rumput. Tapi, kesan saya masih sama : DINGIN. Untung tuh si embek punya bulu tebal, kalo enggak, kayaknya sama seperti saya deh, KEDINGINAN.
Beberapa hari di Keighley, kemudian saya pindah ke London . Dua orang teman yang menjemput saya, baru bisa komentar kalo memang di Keighley lebih dingin dari London . Termasuk salah satu nya yang menyarankan saya untuk memeluk kompor dan knalpot…
Sampai di London, memang udara agak hangat. Masih dingin sih, tapi kalo dibanding di north, masih mendingan lah. Kayak di Puncak gitu… Cuma ya bagi saya, tetep aja dingin. Saya sempat bertanya dalam hati, kapan sih saya bisa merasakan kepanasan selama di Inggris?, saya jawab dalam hati juga, oh nanti mungkin kalo sudah agak lamaan tinggal di sini.
Suatu hari, saya diajak jalan oleh teman ke daerah Oxford dan Windsor . Dengan harapan dapat menikmati pemandangan dan merasakan udara hangat. Susah payah saya menahan dingin agar gag dikatain norak. Padahal, asli… saya hampir nyerah gag mau keliling-keliling. Tapi masak saya menolak, wong dia dan keluarganya sudah meluangkan waktu weekend nya untuk saya.
Saya juga mengunjungi Luton, ke rumah tante saya. Hihihi, masih sama judul nya DINGIN. Malah menurut saya, lebih dingin dari London. Dan yang bikin saya terbengong-bengong adalah, di rumah itu gag ada heater !!!, karena anak-anak tante saya tidak bisa merasakan udara panas, sedikit saja merasakan hangat, badan mereka gatal-gatal dan akan rewel. Walhasil, semaleman saya gag tidur, walau selimut sudah super tebal, tetap saya menggigil dan kaki kram terus sepanjang malam…
Waktu saya ke Bristol, saya di ajak oleh keponakan saya ke daerah Bath. Waduuuh… pemandangan dan kota nya sungguh sangat indah. Tapi, seperti biasa, saya tidak 100% menikmati, karena ya itu tadi, hihihi… DINGIN. Saya lebih konsentrasi untuk menjaga tampang saya agar gag kliatan kedinginan kalo di foto, hahaha… ternyata, 70% tampang saya di foto menggambarkan betapa saya tersiksa karena KEDINGINAN…
Suatu hari, saya ngobrol dengan teman. Saya tanya, kenapa sih INGGRIS dingin?. Dia jawab : “soalnya pake es…”. Maksudnya???... “Iya, kalo gag pake es, jadinya INGGRI dong…”. SHUT UP !!!.
London , 17 Maret 2007
12:22 Permalink | Comments (0) | Email this

