18/04/2007

going home

                Tadi siang, saya dan suami nyambangi makam Ayah & Ibu mertua saya (which we called them Ayah Kakek & Ibu Nenek). Ritual ini sebenernya gag rutin kami lakukan, hanya kalo lagi kangen aja sama mereka. Kebetulan, hari ini saya dan suami lagi iseng nyobain Ford, daripada bertujuan gag genah, mendingan kami dolan ke ‘rumah’ Ayah & Ibu. Disana juga ada makam Mbak Santi, kakak ipar yang sangat saya hormati dan sayangi, yang baru menghuni less than 3 month. 

                They passed away, leaving their loved ones and those who loved them behind to start their new journey to see their God. Was I sad?, of course. I still I am. And I’m sure lots of people closer to them than me, feels even worse. Even though, I don’t see them that often, there is still that empty space in my heart/my mind that was usually filled with their presence. And I bet, all of you that once lost a dear person, know what I’m talking about.

                Seven days after Mbak Santi left, I went to her house for the ‘tujuh harian’. One of ayat in The Holy Qur’an : “idzaa ashooba mushiibatun, qooluu Innaalillaahi Wa Innaa Ilaihi Raajiun”. In my opinion, it is the most beautiful ayat. Simply, because it reminds us that we come from Allah and to Allah we will return. 

                Going home is the most wonderful thing, isn’t it?. See, during lebaran, people actually sleeps in terminals or stasiun just because they want to make sure they can come home.

                So, “going home” is actually a good thing, even though we may not feel the same way. That’s what I try to keep in mind that Ayah Kakek, Ibu Nenek and Mbak Santi are not leaving; they’re actually going home, to THE ONE that created them in the first place. And that, we cannot be sad, because our tears would only keep them worrying -just like your kid’s tears when you leave for work, makes you worried about him and makes you going to work quickly and keep looking back. 

                What we could do is make their departures as a momentum to be a better person, so that when we meet again, we can say; “thank you, you have made us become a better person”.

                Safe journey Ayah, Ibu and Mbak Santi… We all miss you…

 

15/04/2007

curhat itu penting dan perlu

                Keseringan dicurhati, lama-lama saya bete juga. I am an extraordinary woman, punya kelemahan, masalah, beban. Namanya juga orang hidup, wajar kan kalo punya itu semua. 

                Dalam ilmu psikologi, kalo orang sering di curhati, ada faktor positif dan negatif pada perkembangan pribadi orang tersebut. Positifnya ; seseorang akan dapat melihat banyak permasalahan yang terjadi sehingga akan menjadi bijak. Negatifnya ; menjadi beban.

                Hehehe, beban?. Ya nggak ya?... Bagi saya, orang yang bersedia curhat sama saya, berarti orang tersebut sudah percaya sama saya sehingga memandang saya sebagai orang yang layak di curhati. Walaupun kadang saya gag ngasih solusi apa-apa, hanya sekedar dijadikan shoulder to cry on dan tak jarang juga ‘gebuk on’. Tapi kadang suka bikin cengoh juga, dan akhirnya saya jadi kepikiran. 

                Terus, gimana dengan saya?. Kemana, dimana, dengan siapa saya harus curhat?. Banyak sih sebenernya tempat yang available bagi saya untuk curhat. Ada ibu, suami, kakak, teman. Ah, hanya saja, saya terlalu gengsi untuk curhat sama kakak saya, karena paling dia akan ngejek saya kalo saya cengeng, hehe. Saya juga terlalu sayang sama ibu saya, makanya saya paling anti curhat sama beliau, karena saya tidak mau membebani pikiran ibu. Suami?, hehehe… ada dua faktor yang menyebabkan kadang saya enggan curhat sama dia. Pertama : takut ngebebani dia, Kedua : diremehkan, dalam artian dia paling akan bilang, “aku tidak mau melihat istriku lemah”, wehehe…

                Yang paling saya sukai adalah, ketika saya di curhati anak saya. Berhubung anak saya banyak, maka cerita dari mereka seolah-olah gag ada habisnya dan menjadikan indah dunia saya, melek mata saya. 

                So, curhat itu perlu dan penting terlepas apa, siapa, tentang apa yang mau di curhati.

Genggam tanganku erat, kuyakin kita bisa, melewati hari ini dengan senyuman. Dan jangan pernah kau lupakan, hidup hanya sebuah rencana, yang tak akan pernah bisa terulang.

 

13/04/2007

digawe enteng

Wahai jiwa-jiwa yang tenang, hati-hatilah dirimu, pada hati yang penuh dengan kebencian yang dalam. Karena sesungguhnya iblis, ada dan bersemayam di hati yang penuh dengan benci, di hati yang penuh dengan prasangka… 

      Hmmm… gimana ya,  kalau seandainya kebencian itu beralasan, apakah hukum diatas masih berlaku?. Seandainya saja, ada orang yang berniat menyakiti mu, apakah akan diam saja?, secara manusiawi, hati ini akan berontak. Masa harus pura-pura manut, inggih… MUNAFIK.

      Trus, apakah salah kalau saya selalu bicara apa adanya, to the point tanpa tedeng aling-aling, walaupun terkesan kasar. Saya pun bicara karena ada yang ingin saya sampaikan, from the bottom of my heart, nggak asal goblek. Embuhlah, jarang yang mau dengerin. 

      Pada dasarnya, saya sayang  sekali sama orang-orang di sekitar saya. Kalau bisa, jangan sampai tersakiti,  biar ke saya saja semua. Mungkin yang saya rasakan belum bisa terbaca sekarang oleh mereka, tetapi suatu saat… Saya tidak sombong sok punya indera ke enam lah dan sebagainya, tapi biasanya firasat saya 85%, benar. Entah itu kejadian yang bagus maupun tidak. Syukur kalau bagus, orang-orang disekitar saya bisa merasakan manfaatnya, lha kalau tidak… semua akan dapat tidak enaknya.

      Masa-masa seperti ini, sulit bagi saya meyakinkan seorang kerabat saya yang sedang mencintai seseorang untuk tidak mencintai dia. Nah looo… ini masalah perasaan mbak, jangan maen-maen. Justru itu, ini sangat serius. Untuk masa depan. Jangan sampai terkalahkan oleh perasaan cinta. Pengorbanan, itu perlu. Dalam artian gini, kalau seandainya kita mencintai seseorang tetapi ternyata orang-orang di sekitar tidak melihat adanya kebaikan pada cinta tersebut, apa boleh buat… pengorbanan. Yakinlah, cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu, bukan di awal mula. Kok mau mendahului kehendak Tuhan. Hidup seseorang sudah ada garisnya, sudah ditakdirkan akan lahir sebagai jenis kelamin apa, jodohnya siapa, rezekinya berapa dan matinya kapan. So, jangan ngeyel… karena selain akan mengecewakan semua orang sekitar yang menyayangi kita, juga dosa karena sudah mendahului takdir Tuhan. 

      Sampai saat ini, segala daya upaya saya untuk meyakinkan kerabat saya, tidak atau belum berhasil. Dan entah kenapa, kali ini saya sangat pesimis akan berhasil. Saya tidak mau mendahului kehendak Tuhan juga sebenarnya, tetapi gimana ya… hanya cinta yang tulus yang saya punya. Bukan berarti cinta sepasang merpati yang sedang jatuh cinta, tapi cinta untuk melindungi agar semuanya berjalan baik-baik saja.

      Dan yang membuat saya kesal pada saat sekarang ini, tidak ada orang yang mendukung saya… hahaha, kasian ya saya. Orang-orang yang kenal dengan saya, banyak yang menganggap saya ini “galak”. Bisa berarti negatif dan positif. 

      Negatifnya, saya gampang sekali marah apabila menjumpai sesuatu hal yang tidak berkenan di hati saya dan menurut saya tidak benar. Nggak tau ya, perasaan itu datangnya darimana, cepet banget. Kata suami, saya belum mampu mengontrol emosi dengan baik. Ah, nggak juga. Bisa jadi, karena saya terlalu peka terhadap serangan yang akan menimpa saya. Haha, kayak ular.

      Positifnya, saya sering dimanfaatkan kakak, adik, teman, suami, ortu dan kerabat untuk maju dan berdiri di “garis depan” kalau mereka sedang menghadapi “serangan”. Dan saya harus mampu dan saya yakin, Insya Allah saya bisa mengatasi hal-hal yang menurut mereka sulit dihadapi. Berat juga, dilihat dulu dari serangannya, berat atau ringan, mudah atau sulit dan memerlukan energi tambahan or just for fun. Masing-masing punya tekhnik sendiri. 

      Saya sebagai anak perempuan pertama, walaupun saya punya kakak laki-laki, mungkin itu yang menyebabkan saya mempunyai self defense yang tinggi. Nggak mau dikalahkan kalau memang merasa benar. Tapi, yang namanya manusia akan selalu merasa benar. Ah, nggak juga sih, tergantung permasalahannya.

      Yang membuat saya jengkel yaitu, ketika suami saya sedang menghadapi masalah, dan dia tenang-tenang saja. Huh, rasanya pengen gedubrak gitu. Kadang, saya pengen sekali ikut campur, tapi ini dia yang memerlukan strategi yang cantik, biar segala sesuatunya bisa terselesaikan dengan indah dan baik. Dan, saya juga tidak cacat di mata suami. 

      So, saya selalu ingat kata-kata Pak Riza, “digawe enteng bae”… bener juga, ngapain ngoyo, ngotot, yang ada 50x2 = capeeek deeeh…