28/04/2005

Digigit Kucing

"Rauzan digigit kucing, skrg sdg k dktr", begitu sms yang aku terima dari suamiku. Hah??????????, kok bisa?????..... Heran, kaget dan sekaligus geli mbayanginnya. Masa iya, seganas itu?. Atau mungkin karena Rauzan nya ngapain kali, nginjek atau mainin atau bawa makanan, segitu gemesnya tuh kucing sampe nggigit.

Menurut cerita yang aku dengar dari orang rumah, pada saat kejadian, Rauzan lagi jalan nyantai sambil nggoyangin tangannya. Cara jalan dia memang begitu, tangannya di ayun depan belakang. Dan karena body dia yang bahenol, padat berisi, dan lagi centil2nya, mungkin si kucing gemes ngliat daging segar bergoyang2 indah sehingga menimbulkan selera si kucing untuk segera menyantapnya...

"Waktu kejadian, si mbak lagi mandi. Tiba2 kucing melompat dan langsung nggigit tangan Rauzan. Trus mpok tereak dan Rauzan nangis. Tapi mpok sengaja gak narik tuh kucing, karena takut nanti nggigitnya semakin kenceng dan lukanya semakin dalam", begitu tutur mpok yang melihat langsung kejadiannya.

Weleh, gak keren amat yak anak gue digigit kucing. Geli ngebayanginnya. Ibu langsung ketawa sekaligus kasian, begitu juga ekspresi adik2ku sewaktu aku menceritakan kejadian tersebut.

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad, anakku yang satu itu memang selalu menggemaskan, membuat siapa saja yang menemuinya, pasti langsung ingin 'meremas'nya. Diantara ke lima anakku, dialah yang paling aktif, berkarakter dan mempunyai kemauan keras. Persis banget papa nya. Apalagi sekarang sedang lucu2nya, lagi seneng2nya ngomong dan sering mengeluarkan kata2 aneh. Pernah suatu kali aku kesulitan menerjemahkan arti kata "otom" yang di ucapkannya. Gak taunya, setelah lama aku tak menemukan jawabnya, tiba2 dia jalan loncat2 sambil kedua tangannya di letakkan diatas kepalanya... OoOoOoOoOoOo, maksudnya "pocong" tho...

Masalah digigit kucing tadi, di tangannya ada luka bekas gigitan dan beberapa baret bekas cakaran. Lumayan dalem. Untungnya langsung dibawa ke dokter dan di kasih salep antibiotik. Takutnya kenapa2, karena kucing yang nggigit dia adalah kucing liar yang setiap hari rajin mencuri ikan dan daging ayam di dapur ku. Segera aku suruhan orang untuk membuang kucing itu jauh2 sampai ke Kebayoran.

Sampai sekarang, Rauzan masih agak trauma ngliat kucing lewat. Tapi, aku berharap trauma itu akan segera hilang. Karena dia anak laki2 yang harus berani menghadapi apa saja dan gak boleh jadi penakut hanya gara2 di gigit kucing...


21:40 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (1) | Email this

22/04/2005

Big House

Melihat rumah besar, seringkali orang berkomentar "ih gila, rumah segede ini buat apa aja, gimana ngerawatnya, pasti yang punya orang ka..", dan sebagainya. Wajar kalo ada komentar2 begitu. Dulu juga aku pernah punya anggapan bahwa rumah besar sangat tidak ekonomis, tidak praktis dan membutuhkan biaya operasional yang sangat besar. Pasti itu...

Setelah sekian lama menikah, Alhamdulillah aku diberi kenikmatan untuk tinggal di rumah besar dan menurutku terlalu besar. Terdiri dari 3 lantai. Jumlah kamarnya adalah 14 kamar tidur plus 8 kamar mandi, 1 ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga dan ruang2 lainnya. Maaf, bukan maksud menyombongkan diri. Tapi, begitulah kenyataannya.

Dengan halaman yang luas, banyak pepohonan dan rumput2 hijau terhampar indah. Bukannya tanpa masalah, tiap hari sampah dedaunan yang rontok menjadi pemandangan tetap. Selain harus segera dibersihkan, sampah yang menumpuk juga akan menjadi tidak nyaman dipandang.

Pada awal2 menempati rumah ini, aku kebingungan, untuk apa rumah sebesar ini. Untuk membersihkan tiap kamarnya saja, membutuhkan waktu setengah hari sendiri. Belum lagi kamar mandi. Jadi aku bikin jadwal, hari apa saja untuk membereskan masing2 ruangan.

Tetapi, seiring waktu berjalan...
Ketika keluargaku datang dari Pekalongan. Namanya orang daerah, kalo ke Jakarta kayak bedol deso. Dari ibu, kakak, kakak ipar, adik2, adik ipar2, ponakan2 + mbak2nya, sepupu2, tante2, tetangga, komplit semuanya terbawa. Dengan kedatangan mereka, terisilah separuh rumahku. Kadang mereka datang silih berganti, pernah juga berbarengan, rame2.

Kemudian...
Ketika teman2 suamiku dari luar daerah datang silaturahmi ke rumah dan sekalian bermalam untuk beberapa hari. Tak jarang mereka juga membawa keluarganya. Dan kadang mereka datangnya juga berbarengan dari berbagai (lain) daerah.

Dan...
Ketika ponakan2 suamiku lagi pada datang semua, mereka selalu ngumpul di rumahku. Apalagi pas lagi liburan kayak gini. Jadi Base Camp deh. Mereka merasa nyaman tinggal disini, karena aku biarkan saja mereka mau ngapain, bebas. Konsumsi pun aku sediakan ala kadarnya. Pokoknya, anggap aja rumah sendiri.

Yang terjadi sekarang adalah...

* Karena long weekend, adik2ku pada datang ke Jakarta. Selain itu, karena mereka juga udah lama sekali gak nyambangi aku. Kangen juga, apalagi ponakan (anak dari adikku), aku kangen banget sama dia. Dan biasanya kalo mereka datang, kami tidurnya maunya rame2. Satu kamar cukup.

* Karena ada beberapa seminar dan workshop yang di selenggarakan di Jakarta, beberapa teman2 suamiku dari luar kota (luar daerah), berdatangan dan bermalam. Mereka aku tempatkan di kamar2 berbeda. Untuk privacy aja.

* Karena waktu liburan panjang, ponakan2 suamiku yang dari Gontor pun berdatangan dan semua ngumpul di rumahku...

Akhirnya...
Karena mereka semua datangnya berbarengan, rumahku penuh, kamar2 semua terisi. Rumahku jadi tampak sempit, ruangan kurang. Hehehehe... Yang tadinya tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya, buat apa rumah sebesar ini. Alhamdulillah, Barokah. Tamu yang berdatangan membawa Rahmat. Dan aku tidak boleh menolak kehadiran mereka. Karena "man aamana billaahi wal yaumil aakhir, fal yukrim dhoyfahu"

04:25 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (1) | Email this

Suka duka si Tante

Hehehehe, buat para ponakan2 yang baca ini, enjoy aja yak...

Alkisah, aku menikah dengan seorang pria ganteng dari keluarga yang sangat besar. Sebagai anak bungsu, suamiku punya 9 kakak dan tidak kurang dari 40 ponakan + cucu2 (anak2 dari ponakan2 yang udah pada nikah). Gile booo', kebayang kaaan...

Diantara para ponakan, usianya ada yang seumuran denganku ada juga malah yang lebih tua. Otomatis, walaupun mereka lebih tua, harus manggil dengan sebutan "Tante". Aku sih gak pernah minta, tapi mungkin atas kesadaran mereka sendiri kali ya. Dan, aku juga kagok, masak harus manggil mereka yang lebih tua dengan hanya menyebut nama mereka saja. Sampai sekarang tau, masih canggung, hehehehe... Maafkan Tante ya...

Belum lagi para cucu (anak2 dari ponakan2). Sampai sekarang belum ada kejelasan, mereka harus manggil aku dengan sebutan apa. Masa iya "Tante Nenek" or "Nenek Tante"... hehehe. Kadang, mama mereka membahasakan dengan "Mama Rifdy". Hmmm, lebih fleksibel mungkin dan kliatan lebih nyaman. Tapi giliran anak2 ku yang laen protes, "kok mama Rifdy, kan mama aku juga..."

Saking banyaknya ponakan, sampai aku gak membiasakan untuk memberi bingkisan waktu lebaran or event apapun. Bangkrut gue!!!, hehehe. Kecuali kalo ada yang ulang tahun. Itupun aku batasi dengan ngasih kado ke yang umurnya masih di bawah lima tahun. Hehehe, dasar si Tante pelit yak... hahaha. Tapi, kadang aku pernah juga kok ngajak jalan mereka dan ntraktir ala kadarnya.

Beberapa ponakan yang laki2, mereka sekolah di Gontor. Wah, ini mah ceritanya laen. Kalo lagi berkunjung kesana, pasti tak ketinggalan aku harus bawa oleh2 ala kadarnya dan 'salam tempel' plus ngajak makan mereka. Nilainya beda lho, serasa jadi Tante beneran deh... apalagi kalo mereka minta sesuatu yang mereka malu ngomong ke Oom nya. Nti tinggal bisa2nya aku ngomong ke suamiku.

Sekarang, ponakan2 yang dari Gontor lagi pada libur. Rumahku jadi base camp deh. Ruammmeeeeeeeeee bangeds. Semaleman mereka gak pada tidur, nonton vcd sampe jam 3 pagi. Sebelumnya mereka pada belajar menggunakan YM, terus chattingan sama si Dedot di UK. Malah katanya, mereka pada tidur tergeletak di depan TV. Oooh my ponakan, maafkan Tante ya gak men servis dengan baik. Semalem teler banget. Makanya kalian tak tinggal, Tantenya langsung tidur. Tenang aja, you'll enjoy here...

01:45 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (0) | Email this

18/04/2005

Males Ngomong

ssst... Setelah kejadian2 yang bikin bete, aku jadi 'males ngomong', 'no comment', 'biarin aja', 'bodo amat', 'emang gue pikirin' dan'yang penting gue enak'. Egois ya. Beginilah hidup, kalo dirasa2ni, lucu, aneh, enak, sedih. Nikmati saja...

Gara-gara sakit, aku jadi lebih hati-hati dalam beraktifitas, mengkonsumsi makanan dan istirahat cukup. Terutama mengistirahatkan pikiran. Jadi, kesannya 'bodo amat', mo ada perang kek, yang penting awakku selamet. (sakit gak enak tauk!)

Kalo pas lagi jenguk Ayah di RS, aku pasang aksi 'no comment'. Lha iya, apanya yang mau di komentarin?, orang sakit ya di doain. Jadi, aku lebih banyak dzikir dan baca Qur'an untuk kesembuhan Ayah. Kasian banget, gak tega aku ngliatnya. Dipasang selang dimana-mana. (Ayah, semoga cepet sembuh)

Ngediemin orang berlama-lama, rasanya gak enak juga. Semarah-marahnya aku, cepet kok sembuhnya. Semenjak kejadian itu, aku jadi 'males ngomong'. Yang tadinya aku udah anggep dia dekeeet banget, jadi sekarang aku batasin diri kalo ngomong sama dia. Aku pilah-pilah dulu, mana omongan or nasehat yang perlu disampaikan. Biar dianya juga gak merasa terbebani gaul ama gue. (maafkan teteh)

Masalah anakku yang doyan makan apa aja, aku 'biarin aja'. Mumpung masih doyan makan dan selagi makanannya ada, monggo saja. Lagian, aku kan nyari duit buat anak-anakku. Dan sudah kewajibanku melayani mereka dengan baik sehingga merasa nyaman. (Rifdy, maafkan mama)

Perbuatan staff-staff ku di kantor, 'emang gue pikirin'. Siapa mereka gitu loh. Namanya juga kerjasama, ya ada enak dan enggaknya lah. Kapasitas mereka mungkin cuma segitu, kalo dipaksain, nanti malah error. Pelan-pelan, kudu sabar menyatukan dan menyamakan visi. Perlu waktu. (maaf ya kalo saya galak, tepatnya tegas or whatever lah)

Kejadian di Sahid, aku anggap kenikmatan dan anugerah yang luar biasa, dan 'yang penting gue enak'. Iya dong, aku disini kan bayar, jadi wajar kalo menuntut fasilitas dan servis yang bagus. Dan lagian, nih hotel kan udah bintang tujuh (or whatever), malu kalo servisnya buruk. Kemajuan suatu hotel ditentukan juga oleh kepuasan para customer.

"Robbii anzilnii munzalan mubaarokan..."




12:45 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (0) | Email this

Lagi Bueeettteee

Sejak nge chat sama Dedot seminggu lalu, kreatifitas ku seakan terhenti. Dia mengingatkan supaya aku jangan terlalu terbuka di Blog. Betul juga apa yang dikatakan Dedot, karena kami sebenarnya perlu perlindungan privacy.

BETE 1
Berawal dari aku sakit malam Kamis. Semaleman aku gak bisa tidur. Aku merasakan sangat tidak enak di perutku. Esoknya, aku pergi ke Dokter dan ternyata ada sesuatu yang nyangkut. Setelah di bersihkan (huek!!! sakitnyaaa), aku mengalami blooding yang sangat hebat, sampe lemes. Oleh dokter aku disuruh bedrest total selama 3 hari. Untung aku ditemani Ayat-Ayat Cinta, jadi lumayan deh gak boring2 amat. Bayangin, aku yang biasanya kayak cacing kepanasan, tiba-tiba gak boleh ngapa2in. Bete kaaan...!

BETE 2
Mertuaku kritis. Sampai saat ini masih dirawat di RS. Hampir setiap jam, ada saja panggilan darurat untuk segera berkumpul ke RS. Aku lihat, suamiku sangat murung dan tampak sangat terpukul dengan kondisi Ayah yang gak stabil. Tiap saat dia menangis, yang sebenarnya aku jarang sekali melihat dia begitu. Serba salah, bagaimana seharusnya aku?. Tapi aku selalu ada bersamanya. Sampai pada suatu hari, pas kita lagi kumpul semua di RS, ndilalah ada aja hal2 yang perlu di selesaikan dengan menggunakan mobil, jemput ponakan lah, beli makan siang lah, beli Qur'an lah. Otomatis aku yang jadi sopirnya, padahal aku belum sehat betul. Dalam keadaan lapar, aku bolak-balik entah berapa kali ke RS untuk segala macem urusan. Bete sih, tapi gimana lagi... Ikhlasin aja kali ya...

BETE 3
Malemnya, karena penasaran dengan bukunya Remy Silado, aku iseng buka websitenya Gramedia. Aku baca beberapa sinopsis karya2 dia dan karya2 beberapa penulis muda. Aku juga iseng masuk ke Cafemuslim, dan ngeliat ada yang lagi mojok. Aku tegor, eeeh... malah dia ngatain kalo gue cemburu!!!. Apa maksudnya coba???. Gak mandang banget seh dia gaul ma siapa???. Selama ini aku berusaha mati2an untuk 'mengangkat' dia, tapi kok malahan begitu. Yo wis, pancene cah raono kerjaane ki doyane iseng. Aku jan ra seneng blas, tapi yo mesakno banget. Nek raono sing ngandani, ki bocah suwe2 tambah ra bener. Padahal cah e iku apik, sopan, alus. Cuma mungkin salah gaul thok. Rung telat nek arep di beneri. Bete lagi kaaan...

BETE 4
Memang kalo kerja tanpa didukung oleh interest, susah juga. Kesannya 'bodo amat', pokoknya yang penting 'gue kerja, mo beres kek kagak kek, bukan urusan gue'. Aku paling gak suka kalo ada orang begitu. Dan itu terjadi pada staff ku di kantor. Pagi2 udah bikin aku marah, karena ya begitu itu... gak ada interest sama sekali, gak ada 'ghiroh fil 'amal'. Bikin bete aja...

BETE 5
Sehabis menghadiri pernikahan Lutfi, temen2 pada mau maen ke rumah. Namanya juga markas, ya monggo2 aja. Memang udah lama sekali kami gak ngumpul2. Seperti biasa, kalo kedatangan temen/tamu, aku selalu menyediakan hidangan seadanya. Siang itu kami di temenin bakso, kerupuk bawang dan rengginang. Tak lupa, aku menyuruh mbak menyiapkan pisang goreng. Setelah makan2, kami keliling2 sambil mengenang kembali masa2 dulu sewaktu kami tinggal di asrama. Kembali ke rumah, aku membayangkan pisang goreng hangat segera menyambut. Loh kok, tinggal 6???. Anak gue!!!... kebiasaan buruk kalo ada makanan, pasti langsung di serbu dan tanpa tanggung2. Bete abiiizzz...

BETE 6
Karena suatu hal yang 'min ghoiru laa yahtasib', aku dan anak2 nebeng papanya nginep di Sahid. Lumayan, suasana baru untuk 4 hari ke depan. Aku biarkan anak2 bebas bermain, berenang dan segala macam kebebasan khas mereka. Kamar kami ada fasilitas internet. Lumayanlah, walaupun lambret abizzz, tapi jadi gak boring. Anak2 juga bisa maen game. Tapi kok gak bisa di pake?, gimana sih???. Aku berusaha komplain ke recepsionis, tapi ya begitulah, di cuekin. Sampai akhirnya, aku marah2 dan gak lama, langsung di proses, bahkan kamar kami langsung dipindahkan ke tempat yang view nya lebih bagus. Alhamdulillah... Marahku gak sia-sia. Bete membawa nikmat...

KESIMPULAN
Hidup ini indah. Semakin variatif hidup kita, akan terasa semakin indah. Apapun yang terjadi dalam hidup ini, sebaiknya nikmati saja dan ambil hikmahnya. Tuh buktinya, dari beberapa macam bete, ada juga yang nyebelin dan ada juga yang membawa nikmat. Dan jangan lupa, ikhlas dan sabar juga penting dalam menjalani hidup, bersyukur adalah kunci segalanya. Semoga Allah bersama orang2 yang sabar. Amien...

05:05 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (0) | Email this