19/04/2007

kemsor vs mensa

      Ternyata, dalam kehidupan ini, telah timbul suatu kekhawatiran pada setiap generasi. Beberapa hari yang lalu, saya chatting dengan sahabat yang usianya 11 tahun di atas saya. Seperti biasa, saya ngobrol ngalor ngidul dengan penuh keakraban, saling ngledek, nggodain, becanda, layaknya hubungan kakak adik. Demi Tuhan, kalo lagi ngobrol/chatting, saya tidak pernah bermaksud menggurui, sok tau apalagi menasehati semua sahabat saya even dia lebih muda apalagi yang lebih tua. Kalo dengan yang lebih tua, saya cenderung minta pendapat dan nasehat, karena wajar saja, dia kan hidupnya udah lebih lama dari saya. 

      Percakapan berikut ini, secara drastis membuat hilang ke pede an saya dan secara otomatis pula menyadarkan bahwa BETUL saya memang anak ‘Kemsor’ ;

Masp : wah itu sih kuno, jamannya ibu ku dulu udh ngomong spt itu

Masp : wakakakak

Saya : kok ngakak? kuno ya? wah aku gag tau

Saya : kan aku baru lahir setelah Masp lulus SMP, kasian yah gue

Masp : iya anak kemsor

Masp : kemarin sore...

      Ciri-ciri anak Kemsor adalah : belum banyak tau apa-apa, masih penasaran tentang segala sesuatu sehingga ingin mencoba segalanya dan berusaha mencari eksistensi untuk dapat mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan sosial supaya diakui keberadaannya. Isn’t it?... bisa jadi. 

      Sahabat saya tadi, menganggap saya termasuk kategori anak Kemsor. It’s ok, saya terima. Sebenernya tergantung bagaimana cara sahabat saya tadi menyikapi hidup, mungkin saja dia tidak atau belum bisa terima apabila eksistensi dirinya tergeser oleh anak-anak Kemsor. Ya, karena sahabat saya itu masuk dalam kategori Mensa alias Menjelang Senja.

      Beberapa belas tahun ini, saya hidup bersama dengan seorang laki-laki yang ‘harusnya’ masuk kategori Mensa. Ya, antara saya dan suami terbentang jarak yang cukup lumayan jauh, setahun lebih muda dari usia sahabat saya tadi. Kami memposisikan diri sebagai partner, teman, sahabat, kakak-adik, musuh, lawan, kawan, guru, murid dan sebagainya. Alhamdulillah, selama belasan tahun hidup bersama, gag ada tuh gap secara tajam antara saya dan suami. Kami saling menghormati, pengertian, memberi, menerima segalanya tentang apa saja. Segala hal yang memang saya belum tau, saya tanyakan kepadanya, dan segala hal yang dia sudah tau, secara otomatis dia akan memberi tau saya, that’s it. 

      Seharusnya, antar generasi tidak boleh saling meremehkan, malah saling mendukung. Karena, circle of life nya memang begitu. Siapa yang akan menggantikan generasi berikutnya, harus dipersiapkan dulu agar keberlangsungan hidup dapat berjalan secara seimbang dan harmonis. Yang lebih duluan nongol di dunia ini, membimbing yang dibawahnya, jangan malah dijadikan saingan.

      Bisa jadi, sahabat saya itu selama hidupnya dikelilingi oleh generasi-generasi Mensa dan bahkan Butan (Bau Tanah). Makanya, sepertinya dia gag siap nerima anak-anak Kemsor, apalagi generasi TP (Tadi Pagi). 

      Coba lihat, anak-anak Kemsor yang sudah dapat diperhitungkan eksistensinya ; di kalangan artis ada Krisdayanti, Maudy Kusnaedy, Alya Rohali, Melly Goeslaw, Siti Nurhaliza, Anjasmara, Tora Sudiro dll. Di kalangan politisi ada Angelina Sondakh dll. Di kalangan kerohanian ada Jeffry Al Bukhori, Arifin Ilham, Yusuf Mansur dll. Dan di kalangan atlet, ada Angelique Widjaya, Taufiq Hidayat dll. See, apa yang sudah mereka perbuat?. Apakah itu semua akan menjadi hantu untuk generasi Mensa seperti sahabat saya tadi?. Semoga tidak, kami hanya berbuat apa yang kami mampu, yang kami bisa. Tidak ada niatan sama sekali untuk mengungguli generasi sebelumnya.

      So, janganlah menganggap remeh sesuatu kalo anda tidak mau diremehkan. Tapi, saya mengucapkan terimakasih kepada sahabat saya, Masp, yang telah mengingatkan saya sebagai anak Kemsor. Itu merupakan cambuk bagi saya untuk berbuat lebih baik lagi dan terbaik agar tidak salah melangkah nantinya.

 

18/04/2007

going home

                Tadi siang, saya dan suami nyambangi makam Ayah & Ibu mertua saya (which we called them Ayah Kakek & Ibu Nenek). Ritual ini sebenernya gag rutin kami lakukan, hanya kalo lagi kangen aja sama mereka. Kebetulan, hari ini saya dan suami lagi iseng nyobain Ford, daripada bertujuan gag genah, mendingan kami dolan ke ‘rumah’ Ayah & Ibu. Disana juga ada makam Mbak Santi, kakak ipar yang sangat saya hormati dan sayangi, yang baru menghuni less than 3 month. 

                They passed away, leaving their loved ones and those who loved them behind to start their new journey to see their God. Was I sad?, of course. I still I am. And I’m sure lots of people closer to them than me, feels even worse. Even though, I don’t see them that often, there is still that empty space in my heart/my mind that was usually filled with their presence. And I bet, all of you that once lost a dear person, know what I’m talking about.

                Seven days after Mbak Santi left, I went to her house for the ‘tujuh harian’. One of ayat in The Holy Qur’an : “idzaa ashooba mushiibatun, qooluu Innaalillaahi Wa Innaa Ilaihi Raajiun”. In my opinion, it is the most beautiful ayat. Simply, because it reminds us that we come from Allah and to Allah we will return. 

                Going home is the most wonderful thing, isn’t it?. See, during lebaran, people actually sleeps in terminals or stasiun just because they want to make sure they can come home.

                So, “going home” is actually a good thing, even though we may not feel the same way. That’s what I try to keep in mind that Ayah Kakek, Ibu Nenek and Mbak Santi are not leaving; they’re actually going home, to THE ONE that created them in the first place. And that, we cannot be sad, because our tears would only keep them worrying -just like your kid’s tears when you leave for work, makes you worried about him and makes you going to work quickly and keep looking back. 

                What we could do is make their departures as a momentum to be a better person, so that when we meet again, we can say; “thank you, you have made us become a better person”.

                Safe journey Ayah, Ibu and Mbak Santi… We all miss you…

 

15/04/2007

curhat itu penting dan perlu

                Keseringan dicurhati, lama-lama saya bete juga. I am an extraordinary woman, punya kelemahan, masalah, beban. Namanya juga orang hidup, wajar kan kalo punya itu semua. 

                Dalam ilmu psikologi, kalo orang sering di curhati, ada faktor positif dan negatif pada perkembangan pribadi orang tersebut. Positifnya ; seseorang akan dapat melihat banyak permasalahan yang terjadi sehingga akan menjadi bijak. Negatifnya ; menjadi beban.

                Hehehe, beban?. Ya nggak ya?... Bagi saya, orang yang bersedia curhat sama saya, berarti orang tersebut sudah percaya sama saya sehingga memandang saya sebagai orang yang layak di curhati. Walaupun kadang saya gag ngasih solusi apa-apa, hanya sekedar dijadikan shoulder to cry on dan tak jarang juga ‘gebuk on’. Tapi kadang suka bikin cengoh juga, dan akhirnya saya jadi kepikiran. 

                Terus, gimana dengan saya?. Kemana, dimana, dengan siapa saya harus curhat?. Banyak sih sebenernya tempat yang available bagi saya untuk curhat. Ada ibu, suami, kakak, teman. Ah, hanya saja, saya terlalu gengsi untuk curhat sama kakak saya, karena paling dia akan ngejek saya kalo saya cengeng, hehe. Saya juga terlalu sayang sama ibu saya, makanya saya paling anti curhat sama beliau, karena saya tidak mau membebani pikiran ibu. Suami?, hehehe… ada dua faktor yang menyebabkan kadang saya enggan curhat sama dia. Pertama : takut ngebebani dia, Kedua : diremehkan, dalam artian dia paling akan bilang, “aku tidak mau melihat istriku lemah”, wehehe…

                Yang paling saya sukai adalah, ketika saya di curhati anak saya. Berhubung anak saya banyak, maka cerita dari mereka seolah-olah gag ada habisnya dan menjadikan indah dunia saya, melek mata saya. 

                So, curhat itu perlu dan penting terlepas apa, siapa, tentang apa yang mau di curhati.

Genggam tanganku erat, kuyakin kita bisa, melewati hari ini dengan senyuman. Dan jangan pernah kau lupakan, hidup hanya sebuah rencana, yang tak akan pernah bisa terulang.

 

13/04/2007

digawe enteng

Wahai jiwa-jiwa yang tenang, hati-hatilah dirimu, pada hati yang penuh dengan kebencian yang dalam. Karena sesungguhnya iblis, ada dan bersemayam di hati yang penuh dengan benci, di hati yang penuh dengan prasangka… 

      Hmmm… gimana ya,  kalau seandainya kebencian itu beralasan, apakah hukum diatas masih berlaku?. Seandainya saja, ada orang yang berniat menyakiti mu, apakah akan diam saja?, secara manusiawi, hati ini akan berontak. Masa harus pura-pura manut, inggih… MUNAFIK.

      Trus, apakah salah kalau saya selalu bicara apa adanya, to the point tanpa tedeng aling-aling, walaupun terkesan kasar. Saya pun bicara karena ada yang ingin saya sampaikan, from the bottom of my heart, nggak asal goblek. Embuhlah, jarang yang mau dengerin. 

      Pada dasarnya, saya sayang  sekali sama orang-orang di sekitar saya. Kalau bisa, jangan sampai tersakiti,  biar ke saya saja semua. Mungkin yang saya rasakan belum bisa terbaca sekarang oleh mereka, tetapi suatu saat… Saya tidak sombong sok punya indera ke enam lah dan sebagainya, tapi biasanya firasat saya 85%, benar. Entah itu kejadian yang bagus maupun tidak. Syukur kalau bagus, orang-orang disekitar saya bisa merasakan manfaatnya, lha kalau tidak… semua akan dapat tidak enaknya.

      Masa-masa seperti ini, sulit bagi saya meyakinkan seorang kerabat saya yang sedang mencintai seseorang untuk tidak mencintai dia. Nah looo… ini masalah perasaan mbak, jangan maen-maen. Justru itu, ini sangat serius. Untuk masa depan. Jangan sampai terkalahkan oleh perasaan cinta. Pengorbanan, itu perlu. Dalam artian gini, kalau seandainya kita mencintai seseorang tetapi ternyata orang-orang di sekitar tidak melihat adanya kebaikan pada cinta tersebut, apa boleh buat… pengorbanan. Yakinlah, cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu, bukan di awal mula. Kok mau mendahului kehendak Tuhan. Hidup seseorang sudah ada garisnya, sudah ditakdirkan akan lahir sebagai jenis kelamin apa, jodohnya siapa, rezekinya berapa dan matinya kapan. So, jangan ngeyel… karena selain akan mengecewakan semua orang sekitar yang menyayangi kita, juga dosa karena sudah mendahului takdir Tuhan. 

      Sampai saat ini, segala daya upaya saya untuk meyakinkan kerabat saya, tidak atau belum berhasil. Dan entah kenapa, kali ini saya sangat pesimis akan berhasil. Saya tidak mau mendahului kehendak Tuhan juga sebenarnya, tetapi gimana ya… hanya cinta yang tulus yang saya punya. Bukan berarti cinta sepasang merpati yang sedang jatuh cinta, tapi cinta untuk melindungi agar semuanya berjalan baik-baik saja.

      Dan yang membuat saya kesal pada saat sekarang ini, tidak ada orang yang mendukung saya… hahaha, kasian ya saya. Orang-orang yang kenal dengan saya, banyak yang menganggap saya ini “galak”. Bisa berarti negatif dan positif. 

      Negatifnya, saya gampang sekali marah apabila menjumpai sesuatu hal yang tidak berkenan di hati saya dan menurut saya tidak benar. Nggak tau ya, perasaan itu datangnya darimana, cepet banget. Kata suami, saya belum mampu mengontrol emosi dengan baik. Ah, nggak juga. Bisa jadi, karena saya terlalu peka terhadap serangan yang akan menimpa saya. Haha, kayak ular.

      Positifnya, saya sering dimanfaatkan kakak, adik, teman, suami, ortu dan kerabat untuk maju dan berdiri di “garis depan” kalau mereka sedang menghadapi “serangan”. Dan saya harus mampu dan saya yakin, Insya Allah saya bisa mengatasi hal-hal yang menurut mereka sulit dihadapi. Berat juga, dilihat dulu dari serangannya, berat atau ringan, mudah atau sulit dan memerlukan energi tambahan or just for fun. Masing-masing punya tekhnik sendiri. 

      Saya sebagai anak perempuan pertama, walaupun saya punya kakak laki-laki, mungkin itu yang menyebabkan saya mempunyai self defense yang tinggi. Nggak mau dikalahkan kalau memang merasa benar. Tapi, yang namanya manusia akan selalu merasa benar. Ah, nggak juga sih, tergantung permasalahannya.

      Yang membuat saya jengkel yaitu, ketika suami saya sedang menghadapi masalah, dan dia tenang-tenang saja. Huh, rasanya pengen gedubrak gitu. Kadang, saya pengen sekali ikut campur, tapi ini dia yang memerlukan strategi yang cantik, biar segala sesuatunya bisa terselesaikan dengan indah dan baik. Dan, saya juga tidak cacat di mata suami. 

      So, saya selalu ingat kata-kata Pak Riza, “digawe enteng bae”… bener juga, ngapain ngoyo, ngotot, yang ada 50x2 = capeeek deeeh…

 

11/04/2007

tak mungkin malam selamanya gelap

                Kemaren malam, saya dicurhati sahabat saya. Untuk kesekian kalinya dia curhat tentang masalah yang sama. Dia mengeluh, karena dalam kehidupan perkawinannya, dia merasa sudah tidak ada lagi getar-getar dan bunga-bunga cinta. Intinya, selama menikah, dia selalu merasa diperlakukan tidak adil dan selalu tersakiti, bukan secara fisik, melainkan batin. 

                Heran saya, padahal dia nikah atas dasar cinta dan masa pacaran yang cukup lama. Secara kasat mata, seharusnya dia akan selalu bahagia dan menikmati kehidupan bersama sang tercinta, tapi ternyata sebaliknya. Hmmm… ternyata hidup tak selamanya sesuai rencana. Kata orang, cinta bukanlah apa yang kita temukan, tapi apa yang kita lakukan.

                Waktu saya sekolah di pesantren dulu, ada pepatah Arab yang mengatakan : baytu abi khoirun min baytik. Tadinya saya percaya gag percaya, tapi setelah mengarungi hidup sekian lama dan mengalami berbagai masalah, apalagi saya selalu dijadikan shoulder to cry on oleh kawan, sahabat, teman, kerabat, akhirnya saya percaya akan makna dari kata-kata tersebut yang ternyata dalem banget. 

                Sebenernya, kalo dirasa-rasa, hidup ini indah lho. Ada suka, duka, canda, tawa, sedih, gembira, sakit hati, salah faham, iri, dengki dan sebagainya. Tergantung bagaimana kita mengatur dan menempatkan berbagai persoalan tersebut sehingga semuanya bukan merupakan sebuah beban.

                Saya bilang sama sahabat saya tadi, hidup yang di jalani anggap saja seolah-olah kita sedang membuat suatu riset, dimana ditemukan suatu persoalan, tercipta konflik, mencerna permasalahan tersebut kemudian mencari jalan keluar yang akhirnya menjadi win-win solution. Beres kan… 

                Menurut saya, sekarang tinggal pinter-pinternya kita me menej suatu persoalan. Kalo merasa tersakiti, bagaimana cara mengolah rasa sakit itu menjadi sebuah kenikmatan. Memang sih membutuhkan kejelian yang sangat dan ketelitian tingkat tinggi untuk menjalankannya. Saya juga bilang, bagaimana sebaiknya menjalani hidup tanpa merasakan suatu beban yang berat. Kok bisa?, kembali lagi ke diri kita, cara pandang kita terhadap suatu persoalan hidup, mestinya harus dirubah dulu. Kalo hidup ini dirasakan berat, jangan putus asa.

                Saya jadi teringat masa pacaran dulu. Walaupun amat sangat singkat sekali, tapi rasanya seperti melayang, saya tidak pernah merasa lapar dan sering lupa makan. Rambut saya selalu bersinar, kulit bersih dan saya selalu sabar, hangat dan senantiasa ceria. Ketika sedang berjauhan, saya selalu teringat padanya setiap saat dan merasa sangat menderita, sampai kami bisa bersama-sama lagi walau kadang hanya dua-tiga jam. Hidup terasa indah dan waktu berlalu sangat cepat, saat-saat menunggu telepon berdering, mendengar ia mengetuk pintu atau saat tangan kami bersentuhan secara tak sengaja… ehm J

                Tapi sekarang, laki-laki yang sama ini hanya akan memberi kado ulang tahun saya ketika saya minta. Dia jarang mengunci kantor yang didalamnya terdapat barang-barang berharga. Dia juga susah sekali diminta untuk mengantar saya shopping di mall. Dia juga sering melarang saya makan coklat kesukaan saya dan dia juga selalu lupa untuk mengembalikan barang-barang pada tempatnya.

                Tapi… dia juga laki-laki yang, pada saat saya hendak berdiet, berkata “buat apa?, kau tetap cantik dimataku”. Dia juga suka bangun pada malam-malam dingin untuk menyelimuti saya karena dia selalu tau kalau saya kedinginan. Dia juga mengatakan “akulah yang nanti mendekapmu erat, saat kau berfikir mungkinkah berpaling”, dia juga bilang “akulah yang nanti menenangkan badai saat kau berjalan nanti”. Dia juga yang memberikan seuntai tasbih cantik, agar saya selalu berdzikir, mengingat nama Allah. 

                Dia mempunyai integritas melebihi siapapun yang saya kenal. Dia bisa selalu diandalkan dalam setiap krisis, selalu tenang, rasional, kuat, sabar dan penuh cinta. Dia memeluk saya ketika ayah saya meninggal, mengelus kepala saya ketika saya sakit dan menggenggam tangan saya, saat saya berjuang melahirkan anak-anak kami. Dan dia jugalah yang mencuri hati saya sejak saat pertama saya melihatnya.

                Sekarang, saya sedang asyik dengan my orange notebook saya, menunggu dia pulang dari kantor. Sekilas berkelebat sosok seorang laki-laki gagah, tampan dan gesit. Jalannya tegap, sambil mengangkat kepala dan tersenyum lebar. Sangat memikat. Ayah anak-anak saya. Nama yang melekat di belakang nama saya. Laki-laki yang dulu membuat saya jatuh cinta… 

                Saya teringat curhatan sahabat saya kemaren. Betapa seharusnya dia mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan, KEBAHAGIAAN. Apalagi yang harus dicari dalam hidup ini selain kebahagiaan?. Dan, bagaimana cara mendapatkannya tanpa ada halangan yang berarti?.

Tak mungkin malam selamanya gelap, masih ada waktu melakukan yang terbaik. Tak ada manusia yang sempurna, cuma hanya bisa melakukan rencana…

  

07/04/2007

saya ketemu salju

Ceritanya, hari ini turun salju di kota London, but im not sure, seluruh London apa hanya di daerah Hendon saja. Tapi yang jelas, SAYA KETEMU SALJU… Satu hal yang paling saya prihatinkan sebenarnya. Saya, yang Insya Allah flexible dan easy going, ternyata TAKUT SALJU.


Pak Riza berkali-kali ngledek saya, sebagai orang Pekalongan, karo salju kok wedhi wong wis biasa diwerui es gosrok… plis deh Pak… I told u, berhubung rumah saya di Pekalongan terletak dekat dengan sungai, lebih baik saya menceburkan diri di sungai dan berenang ber mil-mil daripada di werui SALJU.


Saya langsung mengkeret, ciut nyali saya. Karena apa?, dengan keadaan saya begini, orang-orang pasti akan tambah ngledekin saya dan melihat secara jelas kelemahan saya. Wong biasanya saya beranian, kok ngliat salju jadi pucet… hehehe (Maspri, silakan ledek saya lagi, pasrah saya…)


Hari ini memang sangat dingin, tapi matahari bersinar sangat terik. Saya tidak niat pergi kemana-mana, selain dingin, saya memang malas keluar rumah. Termasuk undangan makan siang di rumah Maspri, saya tolak. Betul-betul malas. Mungkin sudah diatur sama Allah kalo hari ini saya harus diam di rumah.


Siang ini, saya lagi asyik nulis di ruang tamu rumah Pak Riza ditemani my orange laptop. Tiba-tiba Dek Gilang menelpon dan mengabarkan bahwa ada hujan salju. Weleh, saya singkap korden rumah, eh beneran loh… SAYA KETEMU SALJU. Setengah hati, saya senang dan norak karena baru seumur hidup melihat salju. Setengah hati lagi, saya cemas dan takut.


Ketakutan saya bukannya tanpa alasan. Saya sendirian ke London, tanpa ditemani suami. Karena, biasanya kalo saya kedinginan :


1. Kaki saya akan sering kram, dan dengan sabar suami saya akan ngelus-ngelus sampai kaki saya baik seperti semula dan dia akan terus memastikan apakah saya baik-baik saja sampai saya berhenti mengaduh kesakitan. (uuuhmmm… you’re the only one who really knew me at all)


2. Saya akan menggigil kedinginan, dan tanpa diminta, secara otomatis suami saya akan memeluk erat-erat dan akan terus memastikan apakah saya sudah merasakan kehangatan dalam pelukannya. (hmmm…I wanna hold u close, under the rain)


3. Mata saya akan perih, sehingga penglihatan akan sedikit terganggu dan dengan baik hati Papa Yayan akan meneteskan eye drop ke kedua mata saya. (just close your eyes, and you’ll be here with me…)


4. Tubuh saya akan memerlukan sesuatu yang hangat. Alangkah indahnya kalo ada ibu saya yang akan membuatkan wedang jahe panas kesukaan saya.


5. Kulit wajah cantik saya akan mengering, sehingga memerlukan treatment khusus.


Nah, seandainya itu semua terjadi tanpa kehadiran Papa Yayan disamping saya, maka ceritanya akan jadi begini :


1. waktu kaki saya kram, mungkin orang akan mengira kalo saya sedang latihan nendang…


2. ketika saya menggigil kedinginan, bisa jadi orang akan mengira saya sedang latihan dugem dengan alat musik khusus gigi…


3. karena mata saya iritasi dan sering mengedipkan mata, orang akan ke ge-er an ketemu saya, dikira saya genit dan ganjen kurang kerjaan maen kedip atau orang akan mengira saya kelilipan salju


4. berhubung di sini gag ada tukang sekoteng lewat, sepertinya saya harus mempelopori jualan wedang ronde ala bule atau bir pletok ala londo keliling kampung Hendon.


5. hmmm… menyangkut tentang kecantikan, saya akan laris jadi iklan obat jerawat dan pembasmi tai lalat…


Berbanggalah hidup di Indonesia dan nikmati saja. Apabila tidak punya keberanian pergi sendiri ke negara dingin tanpa di dampingi pasangan , mbok ya jangan nekaaat…

London, 19 Maret 2007
(sendirian di rumah Pak Riza di kampung Hendon, KANGEN!!! PENGEN PULANG!!!)





06/04/2007

kenapa di Inggris dingin?

Sejak kedatangan saya di Inggris 2 minggu lalu, yang selalu saya rasakan dan menurut saya sangat mengganggu adalah : cuaca. Saya selalu merasa kedinginan. Bisa jadi, karena saya berasal dari negara beriklim tropis dan tidak terbiasa menghadapi udara dingin.

Menurut cerita teman saya, di Inggris jangan pernah percaya kepada “3 W”, yaitu “Woman”, “Weather” dan “Work”. “W” yang pertama dan ketiga, gag saya pikirin. Nah, “W” yang kedua itu yang akan selalu saya pikirkan dan rasakan.

Selama di Inggris, saya memang kemana-mana. Beberapa kota dan daerah saya singgahi, macam-macam saya temui dan banyak yang beda dari sekian tempat yang saya kunjungi. Persamaan nya cuma satu : DINGIN.

Mendarat di Manchester, belum apa-apa saya sudah merasakan itu. Padahal saya sudah well prepare segala sesuatu yang berkenaan dengan  baju. Koper saya jadi tebal, tapi tidak berat, karena mayoritas isinya mantel, jacket dan long coat dan sejenisnya untuk mendukung kehangatan saya.

Perjalanan Manchester-Keighley, hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 jam. Saya tiba pagi hari, walau di dalam mobil dalam keadaan hangat, tapi saya bisa membayangkan betapa dinginnya diluar sana. Temperatur di mobil menunjukkan angka 2 drajat celcius, hehehe… hal yang sangat aneh bagi saya.

Selama di Keighley, setiap hari saya memeluk heater di ruang keluarga host family. Si ayah sampai terheran-heran dan sempat komentar, this only for u, if u r not here, we never turn it on. hehehe, kasian ya saya… Pernah suatu hari, saya mencoba membantu nyuci piring. Tuan rumah sudah melarang, tapi karena saya numpang, gag enak kalo diem saja. Apa yang terjadi?, baru megang kran air, saya sudah treak-treak kedinginan. Seluruh rumah menertawakan saya…

Daerah tersebut memang agak sedikit lebih dingin dibanding London , karena terletak di bagian north. Sesekali saya curhat dengan beberapa kerabat dan teman di London tentang kedinginan saya, alih-alih memberi nasehat, malah ada teman yang menyarankan agar saya selalu memeluk kompor dan knalpot apabila masih merasa kedinginan juga… sialan.

Saya juga mengunjungi daerah-daerah sekitar Keighley seperti : Ilkley, Skipton, Bradford, Leeds, Liverpool . Pemandangan yang sungguh sangat indah yang tidak akan saya jumpai di Jakarta. Saya sangat terkesan dengan green field yang diatasnya terhampar domba-domba berbulu tebal putih bersih yang secara khusyuk menyantap rumput.  Tapi, kesan saya masih sama : DINGIN. Untung tuh si embek punya bulu tebal, kalo enggak, kayaknya sama seperti saya deh, KEDINGINAN.

Beberapa hari di Keighley, kemudian saya pindah ke London . Dua orang teman yang menjemput saya, baru bisa komentar kalo memang di Keighley lebih dingin dari London . Termasuk salah satu nya yang menyarankan saya untuk memeluk kompor dan knalpot…

Sampai di London, memang udara agak hangat. Masih dingin sih, tapi kalo dibanding di north, masih mendingan lah. Kayak di Puncak gitu… Cuma ya bagi saya, tetep aja dingin. Saya sempat bertanya dalam hati, kapan sih saya bisa merasakan kepanasan selama di Inggris?, saya jawab dalam hati juga, oh nanti mungkin kalo sudah agak lamaan tinggal di sini.

Suatu hari, saya diajak jalan oleh teman ke daerah  Oxford dan Windsor . Dengan harapan dapat menikmati pemandangan dan merasakan udara hangat. Susah payah saya menahan dingin agar gag dikatain norak. Padahal, asli… saya hampir nyerah gag mau keliling-keliling. Tapi masak saya menolak, wong dia dan keluarganya sudah meluangkan waktu weekend nya untuk saya.

Saya juga mengunjungi Luton, ke rumah tante saya. Hihihi, masih sama judul nya DINGIN. Malah menurut saya, lebih dingin dari London. Dan yang bikin saya terbengong-bengong adalah, di rumah itu gag ada heater !!!, karena anak-anak tante saya tidak bisa merasakan udara panas, sedikit saja merasakan hangat, badan mereka gatal-gatal dan akan rewel. Walhasil, semaleman saya gag tidur, walau selimut sudah super tebal, tetap saya menggigil dan kaki kram terus sepanjang malam…

Waktu saya ke Bristol, saya di ajak oleh keponakan saya ke daerah Bath. Waduuuh… pemandangan dan kota nya sungguh sangat indah. Tapi, seperti biasa, saya tidak 100% menikmati, karena ya itu tadi, hihihi… DINGIN. Saya lebih konsentrasi untuk menjaga tampang saya agar gag kliatan kedinginan kalo di foto, hahaha… ternyata, 70% tampang saya di foto menggambarkan betapa saya tersiksa karena KEDINGINAN…

Suatu hari, saya ngobrol dengan teman. Saya tanya, kenapa sih INGGRIS dingin?. Dia jawab : “soalnya pake es…”. Maksudnya???... “Iya, kalo gag pake es, jadinya INGGRI dong…”. SHUT UP !!!.

London , 17 Maret 2007

 

02/04/2007

enjoy your jazz

Suatu hari, saya diajak kawan untuk menikmati jazz di Ronnie Scotts's Jazz Club di daerah Oxford Street, London. Bagi saya, musik apa saja asyik, asal bukan yang gedebag gedebug (rock) dan bikin pinggul bergoyang (dangdut) atau yang bikin ngantuk (keroncong). Saya sendiri sebenarnya bukan penikmat jazz sejati, tapi karena menurut saya musik jazz enak di dengar, apa salahnya saya menerima ajakan kawan saya tersebut.

Malam itu, pertunjukan dibawakan oleh James Taylor Quartet, salah satu kelompok Jazz terkenal di kota London. Musik dan lagu yang dimainkan, sungguh sangat enak di dengar, mengalun lembut dan sesuai irama. Saya pun larut dalam suasana. Dan saya lihat, semua yang hadir sangat menikmati alunan musik yang dimainkan, termasuk dua kawan saya.

Bagi anda penikmat jazz sejati, mungkin sudah tidak asing lagi dengan gaya para pemain musiknya. Anda akan mampu menerjemahkan setiap gerakan para pemain dan merasakan kenikmatan bagaimana memainkan alat musik tersebut.

Tetapi, bagi anda yang bukan penikmat jazz sejati, mungkin akan timbul pertanyaan, itu mereka sedang ngapain?. Berikut sedikit penjelasan yang mungkin bisa bermanfaat bagi anda yang mencoba menikmati musik jazz :

1. Perhatikan pemain drum nya : bayangkan saja, seolah-olah dia baru menelan bola bekel, sehingga kepalanya ndut-ndut an, ngangguk-ngangguk sak geleme dewe.

2. Pemain gitar, terbayang nggak, kayak anak kecil lagi maen lompat tali?, loncat sana loncat sini seolah-olah kabel gitar listriknya dia gunakan sebagai tali untuk melompat. Dan bayangkan pula, apabila dia kesetrum, pasti tambah seru dan gaya rambutnya yang tadinya rapi akan jadi njegrak gag karuan.

3. Pemain organ, pasti kakinya gag bisa diem. Bisa jadi dia kesemutan atau kram atau bisa juga ada uler ngruwel di ujung celana jeans nya dan dia sedang berusaha dengan susah payah melepaskan kruwelan si uler itu.

4. Vokalis, gayanya yang lincah dan suaranya yang pasti sangat merdu. Bibirnya yang sangat dekat dengan mic dan fasih melantunkan lagu, liatin deh kayak habis kelolodan mie, megap-megap gag jelas. Dan pinggulnya itu, megal megol kayak orang kremi an.

5. Pemain saxophone, meliuk-liuk kayak kemasukan coro, kegelian dan seperti sedang berusaha untuk mengeluarkan si kecoak yang sedang asyik lari-larian di dalam bajunya.

6. Perhatikan pula para pengunjung lainnya, kalo anda menjumpai salah satu dari mereka ngangguk-ngangguk, belum tentu dia menikmati suasana. Bisa jadi dia ketelen permen karet dan sedang berusaha mengeluarkannya.

So, enjoy your jazz...

London, 18 Maret 2007

(thanks to pak Aidinal & pak Riza yang sudah ntraktir saya malam itu, jazaakumullah khoiron katsiiroo...)

01/04/2007

jangan berhenti mencari ilmu

Dalam mengarungi hidup ini, kita pasti menghadapi berbagai macam orang dan berbagai macam situasi. Orang yang menyebut dirinya "sudah pintar", pastilah akan mampu mengambil manfaat dari orang lain. Ibaratnya, segala hal akan menjadi ilmu sehingga ia benar-benar orang yang beruntung karena terus menerus berusaha untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Kepekaan akan ilmu muncul dari hati yang bersih. Orang yang mempunyai sifat iri dan dengki, segala hal bisa menimbulkan masalah, bukan menjadi ilmu. Orang yang minder pun demikian, ilmu seolah tertutup baginya. Orang yang sombong, akan menganggap semua hal menjadi sepele, sehingga tak membuatnya tergerak untuk mencari suatu perubahan.

Sebenarnya, hal yang sangat berbahaya bagi kita adalah terkotorinya hati sehingga pikiran menjadi redup dari ilmu. Segala hal yang seharusnya menjadi ilmu malah bisa menjadi bencana. Orang yang miskin ilmu akhirnya kerap menghadapi stres. Dan, stres termasuk keadaan yang paling berpotensi membawa kematian.

Apakah hati kita telah terbuka pada ilmu?, mau mendengarkan pendapat orang lain, mau membaca buku, atau sejenak memperhatikan anak-anak kita dan belajar dari mereka?. Istighfarlah, jika semua fenomena itu tidak dapat menjadi ilmu, tetapi dianggap sebagai masalah. Kita tentu tidak mau stres oleh masalah yang kita sendiri merasa bingung untuk memecahkannya.

Bagaimana membersihkan hati itu?. Berlakulah selalu bagaikan gelas yang kosong. Dengan demikian, kita siap diisi dan mengisi hidup ini dengan ilmu. Namun sebaliknya, lihatlah gelas yang setengahnya berisi dan setengahnya lagi kosong. Dengan demikian, kita telah mempunyai keinginan untuk selalu berpikir positif. Insya Allah, hati akan tetap terjaga dari kekotoran nafsu duniawi yang salah satunya menginginkan kita menjadi orang yang merasa pintar.

Ilmu memang sudah selayaknya berbanding lurus dengan datangnya masalah, agar kita selalu siap mencari solusinya.  Bagian dari sukses seseorang adalah kemampuan dia keluar dari masalah dan mengatasinya. Setiap masalah pasti ada solusinya. Jadi, dengan ilmu, sebuah masalah dapat diatasi dan sebuah sukses akan dapat diraih.

Orang yang berhenti belajar berarti sudah selesai dengan urusan memperbaiki dirinya. Padahal, ujian dari Allah tidak akan pernah selesai selama seorang hamba hidup di dunia ini. Oleh karena itu, tanpa belajar terus menerus, seseorang tidak akan mungkin mampu mengatasi semua masalah hidupnya. Wallahua'lam

posted by : mBak ilfi 01/04/07 (sendiri di ruang rindu)

dan akhirnya...

setelah sekian lama vakum nggak nge blog, akhirnya sekarang saya muncul kembali...

karena kesibukan yang padat dan waktu yang tidak memungkinkan saya nge blog, akhirnya dengan sangat berat hati, saya CUTI dari aktifitas tersebut

dan akhirnya... sekarang, saya muncul kembali dengan semangat baru. MAAF kan kepada seluruh teman yang sempat mampir disini yang ternyata akhirnya kecewa karena SUDAH LAMA SEKALI blog ini nggak di up date

dan akhirnya... TERIMAKASIH kepada semua teman yang sudi mampir ke sini

 

apa kabarmu...

setelah lama kita tak pernah jumpa

banyak yang tlah berubah

dan kuingin dengar dari ceritamu...

sebenarnya, setiap purnama kunantikan hadirmu

dan hati penuh harap cemas

kau akan kembali padaku...

All the posts