13/04/2007
digawe enteng
Wahai jiwa-jiwa yang tenang, hati-hatilah dirimu, pada hati yang penuh dengan kebencian yang dalam. Karena sesungguhnya iblis, ada dan bersemayam di hati yang penuh dengan benci, di hati yang penuh dengan prasangka…
Hmmm… gimana ya, kalau seandainya kebencian itu beralasan, apakah hukum diatas masih berlaku?. Seandainya saja, ada orang yang berniat menyakiti mu, apakah akan diam saja?, secara manusiawi, hati ini akan berontak. Masa harus pura-pura manut, inggih… MUNAFIK.
Trus, apakah salah kalau saya selalu bicara apa adanya, to the point tanpa tedeng aling-aling, walaupun terkesan kasar. Saya pun bicara karena ada yang ingin saya sampaikan, from the bottom of my heart, nggak asal goblek. Embuhlah, jarang yang mau dengerin.
Pada dasarnya, saya sayang sekali sama orang-orang di sekitar saya. Kalau bisa, jangan sampai tersakiti, biar ke saya saja semua. Mungkin yang saya rasakan belum bisa terbaca sekarang oleh mereka, tetapi suatu saat… Saya tidak sombong sok punya indera ke enam lah dan sebagainya, tapi biasanya firasat saya 85%, benar. Entah itu kejadian yang bagus maupun tidak. Syukur kalau bagus, orang-orang disekitar saya bisa merasakan manfaatnya, lha kalau tidak… semua akan dapat tidak enaknya.
Masa-masa seperti ini, sulit bagi saya meyakinkan seorang kerabat saya yang sedang mencintai seseorang untuk tidak mencintai dia. Nah looo… ini masalah perasaan mbak, jangan maen-maen. Justru itu, ini sangat serius. Untuk masa depan. Jangan sampai terkalahkan oleh perasaan cinta. Pengorbanan, itu perlu. Dalam artian gini, kalau seandainya kita mencintai seseorang tetapi ternyata orang-orang di sekitar tidak melihat adanya kebaikan pada cinta tersebut, apa boleh buat… pengorbanan. Yakinlah, cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu, bukan di awal mula. Kok mau mendahului kehendak Tuhan. Hidup seseorang sudah ada garisnya, sudah ditakdirkan akan lahir sebagai jenis kelamin apa, jodohnya siapa, rezekinya berapa dan matinya kapan. So, jangan ngeyel… karena selain akan mengecewakan semua orang sekitar yang menyayangi kita, juga dosa karena sudah mendahului takdir Tuhan.
Sampai saat ini, segala daya upaya saya untuk meyakinkan kerabat saya, tidak atau belum berhasil. Dan entah kenapa, kali ini saya sangat pesimis akan berhasil. Saya tidak mau mendahului kehendak Tuhan juga sebenarnya, tetapi gimana ya… hanya cinta yang tulus yang saya punya. Bukan berarti cinta sepasang merpati yang sedang jatuh cinta, tapi cinta untuk melindungi agar semuanya berjalan baik-baik saja.
Dan yang membuat saya kesal pada saat sekarang ini, tidak ada orang yang mendukung saya… hahaha, kasian ya saya. Orang-orang yang kenal dengan saya, banyak yang menganggap saya ini “galak”. Bisa berarti negatif dan positif.
Negatifnya, saya gampang sekali marah apabila menjumpai sesuatu hal yang tidak berkenan di hati saya dan menurut saya tidak benar. Nggak tau ya, perasaan itu datangnya darimana, cepet banget. Kata suami, saya belum mampu mengontrol emosi dengan baik. Ah, nggak juga. Bisa jadi, karena saya terlalu peka terhadap serangan yang akan menimpa saya. Haha, kayak ular.
Positifnya, saya sering dimanfaatkan kakak, adik, teman, suami, ortu dan kerabat untuk maju dan berdiri di “garis depan” kalau mereka sedang menghadapi “serangan”. Dan saya harus mampu dan saya yakin, Insya Allah saya bisa mengatasi hal-hal yang menurut mereka sulit dihadapi. Berat juga, dilihat dulu dari serangannya, berat atau ringan, mudah atau sulit dan memerlukan energi tambahan or just for fun. Masing-masing punya tekhnik sendiri.
Saya sebagai anak perempuan pertama, walaupun saya punya kakak laki-laki, mungkin itu yang menyebabkan saya mempunyai self defense yang tinggi. Nggak mau dikalahkan kalau memang merasa benar. Tapi, yang namanya manusia akan selalu merasa benar. Ah, nggak juga sih, tergantung permasalahannya.
Yang membuat saya jengkel yaitu, ketika suami saya sedang menghadapi masalah, dan dia tenang-tenang saja. Huh, rasanya pengen gedubrak gitu. Kadang, saya pengen sekali ikut campur, tapi ini dia yang memerlukan strategi yang cantik, biar segala sesuatunya bisa terselesaikan dengan indah dan baik. Dan, saya juga tidak cacat di mata suami.
So, saya selalu ingat kata-kata Pak Riza, “digawe enteng bae”… bener juga, ngapain ngoyo, ngotot, yang ada 50x2 = capeeek deeeh…
15:00 Permalink | Comments (0) | Email this


Post a comment