07/04/2007

saya ketemu salju

Ceritanya, hari ini turun salju di kota London, but im not sure, seluruh London apa hanya di daerah Hendon saja. Tapi yang jelas, SAYA KETEMU SALJU… Satu hal yang paling saya prihatinkan sebenarnya. Saya, yang Insya Allah flexible dan easy going, ternyata TAKUT SALJU.


Pak Riza berkali-kali ngledek saya, sebagai orang Pekalongan, karo salju kok wedhi wong wis biasa diwerui es gosrok… plis deh Pak… I told u, berhubung rumah saya di Pekalongan terletak dekat dengan sungai, lebih baik saya menceburkan diri di sungai dan berenang ber mil-mil daripada di werui SALJU.


Saya langsung mengkeret, ciut nyali saya. Karena apa?, dengan keadaan saya begini, orang-orang pasti akan tambah ngledekin saya dan melihat secara jelas kelemahan saya. Wong biasanya saya beranian, kok ngliat salju jadi pucet… hehehe (Maspri, silakan ledek saya lagi, pasrah saya…)


Hari ini memang sangat dingin, tapi matahari bersinar sangat terik. Saya tidak niat pergi kemana-mana, selain dingin, saya memang malas keluar rumah. Termasuk undangan makan siang di rumah Maspri, saya tolak. Betul-betul malas. Mungkin sudah diatur sama Allah kalo hari ini saya harus diam di rumah.


Siang ini, saya lagi asyik nulis di ruang tamu rumah Pak Riza ditemani my orange laptop. Tiba-tiba Dek Gilang menelpon dan mengabarkan bahwa ada hujan salju. Weleh, saya singkap korden rumah, eh beneran loh… SAYA KETEMU SALJU. Setengah hati, saya senang dan norak karena baru seumur hidup melihat salju. Setengah hati lagi, saya cemas dan takut.


Ketakutan saya bukannya tanpa alasan. Saya sendirian ke London, tanpa ditemani suami. Karena, biasanya kalo saya kedinginan :


1. Kaki saya akan sering kram, dan dengan sabar suami saya akan ngelus-ngelus sampai kaki saya baik seperti semula dan dia akan terus memastikan apakah saya baik-baik saja sampai saya berhenti mengaduh kesakitan. (uuuhmmm… you’re the only one who really knew me at all)


2. Saya akan menggigil kedinginan, dan tanpa diminta, secara otomatis suami saya akan memeluk erat-erat dan akan terus memastikan apakah saya sudah merasakan kehangatan dalam pelukannya. (hmmm…I wanna hold u close, under the rain)


3. Mata saya akan perih, sehingga penglihatan akan sedikit terganggu dan dengan baik hati Papa Yayan akan meneteskan eye drop ke kedua mata saya. (just close your eyes, and you’ll be here with me…)


4. Tubuh saya akan memerlukan sesuatu yang hangat. Alangkah indahnya kalo ada ibu saya yang akan membuatkan wedang jahe panas kesukaan saya.


5. Kulit wajah cantik saya akan mengering, sehingga memerlukan treatment khusus.


Nah, seandainya itu semua terjadi tanpa kehadiran Papa Yayan disamping saya, maka ceritanya akan jadi begini :


1. waktu kaki saya kram, mungkin orang akan mengira kalo saya sedang latihan nendang…


2. ketika saya menggigil kedinginan, bisa jadi orang akan mengira saya sedang latihan dugem dengan alat musik khusus gigi…


3. karena mata saya iritasi dan sering mengedipkan mata, orang akan ke ge-er an ketemu saya, dikira saya genit dan ganjen kurang kerjaan maen kedip atau orang akan mengira saya kelilipan salju


4. berhubung di sini gag ada tukang sekoteng lewat, sepertinya saya harus mempelopori jualan wedang ronde ala bule atau bir pletok ala londo keliling kampung Hendon.


5. hmmm… menyangkut tentang kecantikan, saya akan laris jadi iklan obat jerawat dan pembasmi tai lalat…


Berbanggalah hidup di Indonesia dan nikmati saja. Apabila tidak punya keberanian pergi sendiri ke negara dingin tanpa di dampingi pasangan , mbok ya jangan nekaaat…

London, 19 Maret 2007
(sendirian di rumah Pak Riza di kampung Hendon, KANGEN!!! PENGEN PULANG!!!)





Post a comment