31/07/2006
Tiga Satu
Tigapuluhsatu Juli, Tigapuluhsatu tahun yang lalu...
I starting my life... facing the world and all the problems.
Nggak percaya kalo hari ini saya berusia TIGApuluhSATU. God, pantas gak sih ya kira-kira?. Sebagian teman saya mengatakan, "enak lo... umur segitu udah punya semuanya, suami yang baik hati, anak-anak yang sholeh dan lucu-lucu, materi cukup dan karier yang mapan". Alhamdulillaaah...
Mudah-mudahan saya kuat memegang amanah ini.
12:25 Permalink | Comments (2) | Email this
29/07/2006
Menjelang Tiga Satu
Ada apa gerangan?...
Senang,
Takut,
Cemas,
Berharap banyak,
Mengapa???
Entahlah...
Tetapi semua itu akan terjadi
Dan harus dihadapi
Dengan perasaan apapun
Siapkah???
Pantaskah???
Sudahkah berbuat yang terbaik bagi semua???
Atau...
Bermanfaatkah hidup???
Jawaban itu semua akan terbukti
Dan menjadi nyata
Seiring berjalannya sang waktu
Bahagiakah???
Terpuaskankah???
Semoga...
15:20 Permalink | Comments (0) | Email this
21/07/2006
Ya Allah, Cukuplah Sampai di Sini...
Ya Allah, kami takut lelah atas musibah demi musibah ini. Kami takut, musibah yang beruntun ini sebagai suatu yang biasa, sehingga kami kehilangan rasa cinta dan tak hendak lagi tolong-menolong. Kami takut kehilangan pegangan, kehilangan rasa kemanusiaan, lelah berharap, panik dan menjadi putus asa.
Ya Allah, kami yang bodoh dan hina ini, tak ingin lagi berprasangka buruk, tak ingin lagi bertanya, apakah segala bencana ini tanda cinta atau kemurkaan-MU?. Bantulah kami memahami semua yang terjadi dan hentikan ketakutan kami.
Cukuplah kaum Nabi Nuh AS dan kaum Nabi Luth AS yang merasakan kepedihan karena ingkar. Jangan lagi timpakan kepada kami bencana. Cukupkan Ya Allah, cukupkan sampai disini.
Ya Allah, musibah datang silih berganti, sangat cepat. Belum sempat kami menghitung jarak hari dari satu musibah ke musibah lainnya. Belum sempat kami memahami apa yang terjadi. Kami takut Engkau marah.
Ya Allah, telah begitu banyak kesesatan terjadi dan sebagian dari kami melihatnya sebagai suatu yang biasa. Bahkan bencana yang bertubi-tubi inipun tak membuat kami benar-benar sadar dan mengubah tingkah laku kami.
Apakah berbagai bencana ini atas kehendak-MU atau gejala alam biasa?. Kami sibuk menerka dan mencari-cari penyebab sehingga saling menyalahkan. Padahal semua yang terjadi ada dalam firman-MU. Kami lupa kembali pada firman-firman suci itu. Kami merasa mengetahui semuanya, berkehendak atas semuanya. Kami merasa kematian tidak pernah datang tiba-tiba, tapi mengikuti keinginan dan khayalan kami.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan” (QS Hud: 25-26)
Jika bencana demi bencana ini merupakan peringatan-MU, maka tolonglah kami, masukkan kami dalam perahu Nuh, bersama puluhan pasang hewan-hewan itu.
Ya Allah, kami sangat takut... Cukupkanlah sampai disini...
14:30 Permalink | Comments (0) | Email this
19/07/2006
Tak Ada Yang Sempurna
Tak mungkin malam
Selamanya gelap
Masih ada waktu
Melakukan yang terbaik
Tak ada manusia yang sempurna
Cuma hanya bisa
Melakukan rencana
11:40 Permalink | Comments (0) | Email this
16/07/2006
Londo...
Dulu waktu kecil, kalo ngliat film barat di TV, saya dan adik2 berkomentar “ih, sing maen wong Londo”. Pokoknya, waktu itu, orang yang kulitnya putih dan rambutnya pirang, saya menyebutnya “wong Londo”, entah itu berasal dari negara mana. Dulu juga, saya sering membayangkan, “negoro ne wong Londo” itu jauuuhhh banget, ngomongnya pake “bahasa inggris”, orangnya “Londo kabeh”, makanannya “roti & keju”, ceboknya “nganggo tisu”… hehehe. Saya juga nggak pernah membayangkan, kapan akan mengunjungi negara yang penduduknya “Londo kabeh”.
Beberapa puluh tahun kemudian…
Akhirnya saya mengunjungi “negoro Londo”, tepatnya Inggris. Alhamdulillah, pertengahan Juni, saya dan suami diberi kesempatan oleh salah satu instansi pemerintah Inggris, untuk berkunjung ke sana dalam rangka school partnership. Selama 10 hari di “negoro Londo”, banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan dan bayangan2 masa kecil saya akan “negoro Londo”, hampir 70% adalah benar.
Yang pertama saya rasakan adalah, everything are expensive. Ouw, pasti itu… gimana tidak, mata uang kita dikalikan “sekian belas ribu”. Hehehe… kalo mau beli apa2, ya jangan di kalikan, bisa2 mati berdiri. Kedua, shock culture… wah wah wah. Biarin aja dikatain norak. Pancene aneh2 kok. Masak, orang ciuman di mana2, di tempat2 umum. Soalnya, di negara saya nggak ada tuh gitu, malah ada UU nya lagi. Lumayanlah, itung2 pertunjukan gratisan. Ketiga, masalah cuaca. Sebelum berangkat, beberapa kawan dan kerabat yang sudah pernah ke Inggris, mengatakan bahwa bulan Juni sedang summer, enak udaranya kayak di Puncak. Jadi, jangan takut kedinginan. Saya membayangkan, oooh… Puncak, ya dinginnya gitu doang deh, paling pake sweater aja udah anget.
Ternyata, pada waktu pesawat mendarat di Gatwick, pilot mengatakan bahwa cuaca di luar sekitar 12 celcius!!!... waduh, misuh lah saya ke semua orang yang mengatakan di Inggris lagi enak cuacanya… Dan menurut keterangan dari orang2 setempat, summer di Inggris ya sekitar segituan deh, paling panas ya 20an celcius. Bayangan2 akan selalu menggigil dan gigi gemerutuk, sudah ada di depan saya. Karena, baju2 hangat yang tadinya sudah saya siapkan, saya tinggal di rumah. Walhasil, untuk mengakali terjadi hal2 yang nggak diinginkan selama di Inggris, kemana2 saya selalu pakai baju rangkap 5!!!... hmmm, norak ya. Biarin. Dan betapa terbengong2nya saya sewaktu melihat bahwa di sekitar saya, “wong2 Londo” hanya berpakaian ala kadarnya, tipis dan nggak jarang saya jumpai orang2 pakai kaos singlet dengan dada or punggung terbuka lebar. Gila, kuat bangeeet, mungkin mereka punya kulit setebal kulit badak kali ya…
Masalah keempat yang saya hadapi adalah, sulitnya c**ok, hohoho… di setiap toilet yang saya jumpai, pasti ada tulisan “please keep the toilet clean and tidy”. Weleh… piye ki, saya yang biasanya jebar jebur, kok suruh pake tisu. Tengok kanan kiri, yang ada cuma tisu… Malah yang lebih ekstrem lagi, di beberapa tempat, toiletnya menggunakan karpet super tebal yang biasanya kalo di rumah, saya gunakan untuk menjamu tamu istimewa... Ngok!.
Makan, its not a big problem for me, i think. Saya termasuk orang yang pemakan segala (baca: rakus, hehe), doyanan gitu. Tapi, ini urusannya beda. Agak sulit menemukan makanan halal di Inggris, kalopun ada, rasanya itu lho… menggemaskan. Asin enggak, anyep enggak, manis enggak, pedes enggak. Gimana tuh. Untungnya, keadaan ini sudah saya antisipasi, jadi kalo kemana2, saya selalu membawa abon, saos sambal dan kecap, yang saya buntel rapat2 di tas, karena kalo nggak, saya takut kepergok sama anjing yang lagi lewat…:)
Masuk angin, hahaha… ini general problem deh kayaknya. Dalam kondisi kedinginan, capek, asupan makanan berkurang dan perbedaan waktu yang sangat mencolok, semua orang akan menderita penyakit “entering the wind” ini. Yang terjadi adalah, selama perjalanan kemanapun di “negoro Londo”, aroma parfum berubah menjadi aroma minyak kayu putih dan minyak kapak. Norak ya… biarin.
Tetapi, disamping semua kejadian dan permasalahan diatas, bayangan masa kecil saya akan “wong Londo”, jadi agak sedikit berubah. Ternyata mereka nggak selalu makan “roti & keju”, penduduknya pun nggak “Londo kabeh”, tapi multi cultural, multi etnis yang mana satu sama lain saling menghormati, saling menghargai dan saling menjaga sopan santun. Ada empat hal yang sangat saya senangi terhadap “wong Londo”, mereka punya disiplin tinggi, kesadaran tinggi, high maintenance dan decent behaviour. Masyarakatnya educated, punya kemampuan apa saja. Perbedaan antara si kaya dan si miskin nggak mencolok. Disana yang ada, mobil cakep dan cakep banget, Kesejahteraan merata.
But, Indonesia is the one and only country that i love. Dan yang lebih penting lagi, saya bisa c**ok sepuasnya di negara tercinta ini…
08:35 Permalink | Comments (0) | Email this
Nyari Jodoh
Tung tung, tung tung,,, ada sms masuk ke hp saya, malam2 begini?, siapakah gerangan?. Ah, dari seorang kawan lama rupanya yang sebenarnya perkenalannya juga secara tak sengaja. “Fi, sahabatku minta dikenalin cewek untuk dijadikan istrinya. Gue cari masjid nih…”. Hah???, jodoh?, masjid?,,, hubungannya?. Sejak kapan saya dikenal sebagai biro jodoh?, dan sejak kapan pula ada seorang teman menganggap saya sebagai kontraktor pembangunan masjid?. Tulalit…
Nggak juga ah, kalo dipikir2 dan di pahami secara jelas maksud dan tujuan kata2 di sms tersebut. Ada hadits yang mengatakan bahwa, “barangsiapa yang berhasil mencarikan jodoh seseorang, maka Allah akan membangun sebuah masjid di sorga nanti” (eh, bener nggak ya bunyinya gitu). Ahsss senaaang… Loh, bukannya jodoh itu ada di tangan Tuhan?.
Walhasil, nyariin jodoh itu suatu pekerjaan ibadah yang gampang2 sulit. Kelihatannya mudah gitu ya, ngenalin seorang cewek ke cowok or sebaliknya dan kita harapkan saling tertarik lalu terjadi kecocokan diantara mereka, selanjutnya mengikrarkan diri pada suatu janji suci pernikahan. So eaaasy maaan…
PERASAAN!!!, mau di kemanaken itu?. Emang yang mengatur perasaan itu kamu?,,, Datangnya dari mana ya kira2?. Gini kali, yang namanya perasaan itu, muncul secara tiba2 dan tidak di duga2, karena perasaan ada dalam hati dan dalamnya hati seseorang nggak ada yang bisa ngukur. Lets see, pagi tadi saya mempunyai perasaan sangat ingin selalu dekat dengan anak2 di rumah, tetapi satu sisi, perasaan saya juga berat ninggalken pekerjaan. Beratan mana?, itulah perasaan… eh, salah ya…. Tuing tuing.
Pernah suatu saat, ada seorang lelaki teman suami saya. Sudah cukup umur, cuman entah mengapa kok belum ada seorang pun wanita nyangkut di hatinya. Suami saya bilang, kenalin saja sama si anu, kayaknya cocok deh. Kemudian, kami pun memproses secara hati2 dan waspada. Dimulai dengan cara, si wanita nya di undang ke rumah saya kemudian si lelaki sudah menunggu. Success… mereka mampu saling bersenda gurau, santai. Tiba pada suatu saat, ada kabar dari si lelaki bahwa wanita yang di kenalken, mau nikah dengan somebody else… Gubrack, alasannya, setelah mencoba jalan bareng beberapa waktu, ternyata belum di temukan kecocokan dan belum ada perasaan cinta yang tumbuh… mbuuuh. Yo wis, pancene belum jodoh kali. Yang jelas, perasaan itu tidak bisa dikira2, apalagi perasaan cinta, nggak bisa di terka darimana datangnya.
TAKDIR, sebagai orang islam, harus percaya itu. Qodho’ dan Qodar termasuk dalam Rukun Iman. Dan kemudian USAHA, juga harus. Percuma kalo yang mengusahakan orang lain tapi diri sendirinya don’t care, nyasar deh pasti. And the last thing is DO’A, it must be. Ketiga rangkaian tersebut, menurut saya ya, adalah bekal utama seseorang dalam hal mencari jodoh or what else lah, bisa aja bekal untuk usaha misalnya or bekal dalam menghadapi ujian semesteran. Gampang kan?...
Trus, seandainya ketiga hal tadi sudah dilaksanaken, tetapi Allah belum juga memberikan apa yang kita inginkan?, bagaimana ini?. SABAR, itu kata2 terakhir yang akan terucap. Orang sabar itu berkah kok, ada mahfudzotnya “man shobaro, intaha” hahaha… itu berlaku waktu saya jadi santri dulu ketika ngantri makan.
Pada hakekatnya, Allah menciptakan manusia secara berpasang2an. Itu janji Allah yang tertulis dalam Al Quran. Jadi, jangan takut kehabisan jodoh kali ye. Klise banget ya. Beberapa kawan saya juga mengeluhkan keadaan yang sama bahwa, sampai saat ini kenapa belum ada juga someone yang nyangkut di hati. Uh, ada lagi yang kira2 menurut mereka sudah saling cocok dan optimis merupakan soulmate kelak, tapi ternyata keduanya tidak menemui titik terang dalam hal saling menyangkut… ???,,, bingung…
Ada kok dan hampir nyata terjadi. Seseorang dengan different culture datang dan tinggal di rumah saya. Dia bela2in datang ke Indonesia dari negri seberang sana hanya untuk mengejar dan berusaha meyakinkan si cewek dan keluarganya bahwa “ini lho gue sungguh2” eng ing eeeng... Then so what?. Dua2 nya untuk sementara ini susah di ketemukan dimana celah yang bisa di satukan. Karena masing2 punya pendirian dan permasalahan yang sangat2 berbeda dan podo bae atos nggak pada mau ngalah. Salut, mereka terus mencoba dan mencoba, meskipun bagi saya dan suami saya, sudah bisa tertebak kok endingnya, be happy or bad. Kayak sinetron aja.
Ada lagi kasus yang hmmm… mudah2an barokah. Temen saya sudah cukup lama pacaran dengan pacarnya selama 7 tahun. Sepanjang perjalanan mereka berpacaran, semua orang menilai bahwa mereka itu sudah merupakan jodoh yang tepat, saling mengisi dan mencocokkan diri mereka masing2. Waow, tiba2 ada semacam guncangan2 kecil yang akhirnya lama kelamaan semakin membesar dan… dhuuuaaarrr,,, meletuslah itu apa yang selama ini tersimpan yang semua orang dan mungkin mereka juga tidak menduga apalagi mengetahui. Walhasil, saya juga kena imbasnya dan hehehe, enak ya maen sinetron… Tapi, alhamdulillah, sekarang teman saya sudah hidup dengan tenang dengan suaminya yang bukan dan sebelumnya tidak ada tanda2 mereka akan berjodoh.
JODOH, datangnya dari yang tidak di duga2. Seperti halnya REZEKI dan MAUT. Yang tau hanya Allah Ta’ala dan sudah tercatat di Lauhil Mahfudz kapan semua itu akan terjadi pada kita. <Jakarta 18 Mei 2006, 24:10am>
05:05 Permalink | Comments (0) | Email this
15/07/2006
Hadapi Dengan Senyuman…
Suatu hari, ibu saya menasehati “dadi wong kuwi kudu sawang sinawang”. Itu istilah dalam bahasa Jawa, yang maknanya kurang lebih begini : Dalam hidup, setiap orang harus selalu memandang, melihat dan memahami orang lain. Baik dalam segi kehidupan, tingkah laku, pergaulan sosial, kesehatan, kekayaan dll. Dalam artian, jangan pernah hanya melihat kekurangan orang lain, bisa jadi di balik kekurangannya, ada kelebihan -begitupun sebaliknya-. Dan hal tersebut juga berlaku bagi diri kita. Kadang kita merasa, bahwa diri kita selaluuu saja ditimpa masalah/musibah.
Akhir2 ini, di sekitar saya banyak yang ditimpa musibah berupa SAKIT. Eh, siapa bilang sakit itu musibah, bisa jadi lho merupakan nikmat dan karunia. Karena dengan diberikan sakit, otomatis kita sedang diingatkan oleh Allah. Supaya lebih bersabar dan tawakkal agar bisa lebih mendekatkan diri padaNYA. Sssaaahhh… bisssa aja.
Kejadian yang paling memukul saya dalam hal sakit yaitu yang menimpa anaknya adik saya. Bayi berusia 6 bulan (pada waktu itu) di vonis terkena kelainan jantung bawaan dan harus di operasi sesegera mungkin secara bertahap sebanyak 3 kali. Ddddduuuhhh… puying aing. Kebayang nggak sih. Dengernya saja sudah nggak connect…
Wah, pada masa2 itu selama pra dan pasca operasi adalah merupakan kejadian yang membuat saya merasa DOWN BANGET sampai titik nadir yang paling rendah. Dan sungguh, selama hidup, saya BARU MERASAKAN rasa itu. Ugh!!!. Pada waktu itu, segala nasehat, masukan apapun, seolah2 bagi saya nggak ada yang berguna dan nggak bermanfaat sama sekali. Nggak ada gairah, keinginan atau kemauan apapun pada diri saya. Saya hanya menginginkan HARAPAN, bagaimana supaya segala penyakit pergi dari diri keponakan saya dan secepatnya sembuh total. Dan saya juga berharap semoga penyakit itu salah alamat yang harusnya terjadi pada makhluk lain. Aneh2 memang pikiran saya saat itu. Kayak kehabisan iman saja. Padahal kan segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluk ciptaan Allah, sudah ada garis takdirnya sendiri2. Astaghfirullah.
Itulah... saya baru sadar nasehat ibu saya. Tapi, kalo boleh milih, setiap manusia diciptakan ya maunya sempurna banget, jangan ada kesusahan sepanjang hidup. Bulshit banget daaah… Nggak mungkin lah. Gini saja, hadapi segala sesuatu dengan senyum.
Kejadian yang paling mengerikan menimpa sahabat saya. Her husband has another wife. Its must be crazy. Segala harta yang berupa materi yang mereka bangun sama2 dari awal menikah, seperti habis ditelan bumi. Padahal, yang berjuang mati2an adalah teman saya, suaminya hanya tinggal menikmati. Pada awal2 kejadian, teman saya itu terlihat sangat stress. Bagaimana tidak, coba bayangkan apabila terjadi pada diri anda, naudzubillah…
Dia hanya bisa berkata, biar saja, Allah sudah menentukan garis hidup seperti ini, kok mau ditawar. Siapa kita… Akhirnya gini saja, hadapi dengan senyuman. Eddaan,,, kejadian kayak gitu kok masih mampu buat senyum.
Ada lagi yang menimpa kerabat dekat saya. Ibunya di vonis menderita kanker yang, wallahu a’lam, sulit untuk disembuhkan. Lha terus pasrah?, ya gitu deh. Segala daya upaya sudah diusahakan dengan berbagai macam cara. Dan sekarang, Alhamdulillah masih mampu beraktifitas sesuai kemampuan.
Suatu hari, saya berbincang dengan seseorang. “Apakah masalah itu ada yang abadi?”, maksudnya gini lho, walau sudah diselesaikan, akan timbul lagi dan timbul lagi dengan masalah yang sama. “Siapa yang menciptakan masalah?, apa mungkin Tuhan tidak hanya menciptakan manusia secara lahiriah saja, tetapi komplit dengan seutuhnya kondisi yang ada pada diri setiap manusia itu?”. Iya kali… Jawaban yang saya dapat adalah “YA”. Bagaimana mungkin hidup ini lurus2 saja tanpa masalah yang menyertai?. Percaya, masalah itu tidak datang dengan sendirinya, disamping itu semua sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Kayaknya, kalo hidup tanpa masalah, nggak ada indah-indahnya deh, nggak ada dinamikanya. Kembali lagi, hadapi dengan senyuman…
Sekali lagi, saya baru menyadari apa arti dari nasehat ibu saya. Jadi orang itu jangan cepat puas dan menyombongkan diri terhadap segala sesuatu yang telah dicapai. Hidup ini hanya sementara dan berputar seperti roda…
Hadapi dengan senyuman, sgala yang terjadi, biar terjadi. Hadapi dengan tenang jiwa, semua ‘kan baik-baik saja. Bila ketetapan Tuhan, sudah ditetapkan, tetaplah sudah. Tak ada yang bisa merubah, dan tak kan bisa berubah. Relakanlah saja, bahwa semua yang terbaik. Terbaik untuk kita semua, menyerahlah untuk menang…
14:55 Permalink | Comments (0) | Email this
14/07/2006
Nikmati Saja
Anugerah terindah dalam hidup ini adalah NIKMAT. Tuhan memberikan kenikmatan yang luar biasa kepada setiap manusia. So, tinggal manusianya saja yang harus bisa me manage, suatu nikmat itu dapat dirasakan indah atau nikmat yang merupakan sebuah beban.
Sebagai seorang ibu bekerja sekaligus ibu rumah tangga, ada kalanya nikmat itu menjadi suatu beban yang sangat menyiksa tapi harus dijalankan karena semata2 mengharap ridho Allah. Ah masssaaa…Iya tho,,, contohnyaaa, sebenarnya saya lagi kurang enak badan, tetapi apa boleh buat, anak2 saya harus mengikuti study tour yang diadakan sekolahnya. Well, jasmani saya mengatakan, tidak ingin pergi, karena kepala terasa berat dan huh, pasti nanti disana nggak bisa nyaman karena harus berbasa basi ketemu dengan beberapa orang tua murid lainnya. Tetapi, nurani saya merasakan, kalo seandainya anak2 pergi tanpa didampingi oleh saya,,, uhuk uhuk… malah jadi kepikiran sepanjang hari, nanti kalo ada apa2, bagaimana makannya and so on. Walaupun ada ibu guru, tapi masa iya ibu guru hanya memperhatikan anak2 saya saja,,, yang lain kan banyak. Hmmm,,, jadi ya nikmati saja. Kan sudah tugas seorang ibu untuk selalu menjaga anak2nya. Ayyyay…
Seorang kawan lama, saya perhatikan dia sangat menikmati sekali peran sebagai seorang ibu dan istri. Pagi2, antar anak ke sekolah dengan mengendarai mobil sendiri, sesampai di sekolah, dia menyuapi sang anak yang belum sempat sarapan di rumah. Itu kejadian yang terlihat oleh saya, bayangkan deh, pasti ada kejadian sebelumnya. Sebelum berangkat ke sekolah, pasti teman saya itu harus bangun pagi, membereskan rumah, menyiapkan sarapan, membangunkan anggota rumah yang lain, belum lagi mengurus diri sendiri. Mungkin suda terbiasa kali ya, teman saya itu selalu terlihat chic dan energik. So, tidak terlihat pada teman saya itu, menikmati kenikmatan sebagai suatu kewajiban atau siksaan. Enjoy ajaaa.
Ada lagi nikmat yang benar2 nikmat. Yaitu when I feel that my kids growing up better than me,,, hehehe nyadar keadaan ni chuuu… Everything bout kids deh pokoknya. Ketika lagi capek2 nya mikirin kerjaan or facing some problems, tiba2 mendengar anak2 bercanda saling tertawa antar sesama kakak adiknya, ahhhsss senaaang…
It’s a wonderful life, hidup ini hanya sekali dan hanya untuk dinikmati, janganlah dibuat susah dan disengsarakan, karena akan merugi. Seandainya ada sesuatu yang mengganggu kita dalam mengarungi kehidupan, anggap saja merupakan sebuah dinamika, suatu irama kehidupan. Kalo hidup ini datar2 saja, nggak ada tantangan, nggak enak deh kayaknya. Kayak berenang di laut kemudian ketemu gurita, trus nantangin si gurita itu balapan renang, naaah… bunuh diri namanya, hahaha. So, nikmatilah kehidupan ini apa adanya.
Tapi, seandainya sepanjang hidup merasa ada gangguan terus menerus, wah itu mah harus di ruwat kali. Pasti ada something wrong with u, apakah mungkin diri kitanya yang error, sebab bagaimana mungkin ada asap kalo nggak ada api,,, watchaaa.
Intinya, jangan pernah mengeluh. Bisssaaa adja, apa iya saya juga sudah terlepas dari segala keluh kesah?, tidak juga. Kadang, seseorang apabila mendapatkan sesuatu yang tidak memuaskan dan tidak sesuai dengan keinginannya, wajar dong kalo mengeluh. Manusiawi itu. Begitupun saya, sebagai manusia biasa, apabila ada sesuatu yang masih terlihat kurang baik dan kurang memuaskan yang datangnya dari orang lain maupun diri saya sendiri, otomatis akan mengeluh, kok begini kok begitu. Gludakkk…
Hmmm,,, dan sesuatu yang paling menyebalkan adalah, ketika saya sudah merasa berbuat sesuatu secara sekuat tenaga untuk mendapat hasil yang memuaskan, eeeh… ada saja orang yang mengeluhkan hasil kerja saya. Wadddaaaow,,,
Ya sudah, nikmati saja. Kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman hati senantiasa berawal dari diri kita yang mampu merasakan nikmat. Diantara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan. Nggak ada ruginya kan kita selalu bergembira. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, produktifitas yang bagus dan keriangan jiwa. Kata orang nih ya, kenikmatan merupakan seni yang dapat dipelajari. Artinya, siapa yang mengetahui cara memperoleh, merasakan dan menikmati rasa nikmat, maka akan dapat memanfaatkan berbagai kenikmatan dan kemudahan hidup. Jreng…jreng…
Nah, sekarang begini saja, seandaianya ada yang hmmm apa ya, mengganggu or diri kita merasa kurang nyaman, cuekin aja kali. Tau nggak, semakin kuat dan jernih hati seseorang, maka akan semakin bersinar pula jiwanya. Jadi, bangunlah kekuatan dan kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan2, tidak gentar oleh peristiwa2 dan jangan pernah sibuk memikirkan hal2 kecil yang sepele.
Barangsiapa membiasakan jiwanya bersabar dan tahan terhadap segala benturan, niscaya goncangan apapun dan tekanan dari manapun akan terasa ringan. Nikmati saja. (-Mama iLfi-Jakarta, 21 Mei 2006)
15:35 Permalink | Comments (0) | Email this
12/07/2006
I'll Be Over You
Some people live their dreams
Some people close their eyes
Some people's destiny
Passes by
There are no guarantees
There are no alibis
That's how our love must be
Don't ask why
It takes some time
God knows how long
I know that I can forget you
As soon as my heart stops breakin'
Anticipating
As soon as forever is through
I'll be over you
Remembering times gone by
Promises we once made
What are the reasons why
Nothing stays the same
There were the nights holding you close
Someday I'll try to forget them
Someday I'll be over you...
14:42 Permalink | Comments (0) | Email this
Aku Ingin Ke Rumah Tuhan
Kekasih...
Apakah nanti kamu bertemu dengan Tuhan lagi?
Katanya, kemarin malam kamu sudah bertemu dengan-Nya
Apakah kamu ingat kata-kataku?
Bahwa aku minta tolong untuk sampaikan rinduku
Apakah kemarin malam kamu benar-benar bertemu dengan Tuhan?
Rasanya aku tak percaya kalau kamu sudah bertemu dengan-Nya
Seribu tahun aku mencari-Nya, tapi tak sedetik pun aku pernah bertemu
Tahukah kamu bahwa kemarin aku mencari Tuhan, tapi tak juga bertemu
Katanya, Tuhan tak mau bertemu kalau kita tak mau datang ke rumah-Nya
Katanya, Tuhan juga tidak di rumah-Nya jika kita tak pernah mengetuk pintu-Nya
Benarkah?
Waktu masih kecil, aku sering ke rumah Tuhan
Rasanya damai dan tenteram seperti pelukan ibu
Rumah-Nya nyaman
Rumah-Nya sejuk
Malam ini aku ingin pergi ke rumah Tuhan lagi
Dulu, Ayah pernah bilang kalau aku tidak boleh lupa mampir ke rumah-Nya
Kekasih...
Aku ingin ke rumah-Nya sekarang
Aku ingin ke rumah-Nya yang sejuk
Dimana aku bisa bersujud sepanjang hari
Mencium wangi-Nya yang agung
Aku ingin sekarang
Detik ini juga... Ya Allah
14:40 Permalink | Comments (0) | Email this

