28/04/2005

Digigit Kucing

"Rauzan digigit kucing, skrg sdg k dktr", begitu sms yang aku terima dari suamiku. Hah??????????, kok bisa?????..... Heran, kaget dan sekaligus geli mbayanginnya. Masa iya, seganas itu?. Atau mungkin karena Rauzan nya ngapain kali, nginjek atau mainin atau bawa makanan, segitu gemesnya tuh kucing sampe nggigit.

Menurut cerita yang aku dengar dari orang rumah, pada saat kejadian, Rauzan lagi jalan nyantai sambil nggoyangin tangannya. Cara jalan dia memang begitu, tangannya di ayun depan belakang. Dan karena body dia yang bahenol, padat berisi, dan lagi centil2nya, mungkin si kucing gemes ngliat daging segar bergoyang2 indah sehingga menimbulkan selera si kucing untuk segera menyantapnya...

"Waktu kejadian, si mbak lagi mandi. Tiba2 kucing melompat dan langsung nggigit tangan Rauzan. Trus mpok tereak dan Rauzan nangis. Tapi mpok sengaja gak narik tuh kucing, karena takut nanti nggigitnya semakin kenceng dan lukanya semakin dalam", begitu tutur mpok yang melihat langsung kejadiannya.

Weleh, gak keren amat yak anak gue digigit kucing. Geli ngebayanginnya. Ibu langsung ketawa sekaligus kasian, begitu juga ekspresi adik2ku sewaktu aku menceritakan kejadian tersebut.

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad, anakku yang satu itu memang selalu menggemaskan, membuat siapa saja yang menemuinya, pasti langsung ingin 'meremas'nya. Diantara ke lima anakku, dialah yang paling aktif, berkarakter dan mempunyai kemauan keras. Persis banget papa nya. Apalagi sekarang sedang lucu2nya, lagi seneng2nya ngomong dan sering mengeluarkan kata2 aneh. Pernah suatu kali aku kesulitan menerjemahkan arti kata "otom" yang di ucapkannya. Gak taunya, setelah lama aku tak menemukan jawabnya, tiba2 dia jalan loncat2 sambil kedua tangannya di letakkan diatas kepalanya... OoOoOoOoOoOo, maksudnya "pocong" tho...

Masalah digigit kucing tadi, di tangannya ada luka bekas gigitan dan beberapa baret bekas cakaran. Lumayan dalem. Untungnya langsung dibawa ke dokter dan di kasih salep antibiotik. Takutnya kenapa2, karena kucing yang nggigit dia adalah kucing liar yang setiap hari rajin mencuri ikan dan daging ayam di dapur ku. Segera aku suruhan orang untuk membuang kucing itu jauh2 sampai ke Kebayoran.

Sampai sekarang, Rauzan masih agak trauma ngliat kucing lewat. Tapi, aku berharap trauma itu akan segera hilang. Karena dia anak laki2 yang harus berani menghadapi apa saja dan gak boleh jadi penakut hanya gara2 di gigit kucing...


21:40 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (1) | Email this

24/04/2005

Begitu Dirayu, Allah Pun Tertawa

Oleh : KH A Hasyim Muzadi


Kita sebagai sebuah bangsa, tak habis mengerti kenapa musibah datang beruntun seperti tak hendak menjauh dari garis nasib. Belum tuntas sebuah program pemulihan akibat terjangan musibah, mendadak datang kembali musibah lainnya di daerah yang lain pula. Alam seperti hendak meledek kita, para awam dan para pakar, betapa kita tidak memiliki apa-apa untuk bisa menandingi keperkasaan apalagi mengalahkan alam.

Setelah sekian puluh tahun alam ini kita eksploitasi, tahu-tahu ada gelombang tsunami yang meluluhlantakkan apa saja, gempa yang menelan hidup-hidup anak manusia, dan kini seperti bersatu dalam paduan koor, gunung-gunung berapi bersiap memuntahkan apa saja yang dikandungnya. Lahar, lava dan percikan api siap menjadi lautan api. Kalau merujuk kepada riwayat-riwayat klasik, rangkaian ini sudah mirip dengan tanda-tanda kiamat kecil. Kejadian yang membuat dada sesak, rambut memutih, air susu ibu mengering, bayi-bayi mendadak dapat beban orang dewasa, bukankah ini sesuatu yang ajaib. Di balik semua kegusaran alam ini, Allah bertahta di Singgasana-Nya.

Kita sebagai bangsa, pernahkah memutar balik jarum hati kita kepada tujuan akhir kita akan pulang?. Pernahkah terlintas keyakinan secara sungguh-sungguh bahwa Allah itu Maha Ada, sehingga semua persoalan kita pulangkan kepada-Nya?. Ini menjadi penting agar persepsi kita tentang diri kita, benar adanya di hadapan alam semesta, di antara manusia, dan yang terutama benar di hadapan Robbul 'Izzati. Meski musibah menerjang, belum pernah hal itu langsung membuat kita berada dalam satu barisan.

Kita masih saling menyalahkan, saling menuding, yang satu memanfaatkan yang lain, kesempatan berbenah disulap menjadi kesempatan melakukan tindak koruptif. Kata maaf baru meluncur kalau saudara kita datang mengiba-iba, kita memaafkan kalau seseorang sudah benar-benar hina di hadapan kita. Mau memberi kalau sudah diminta. Meminta-minta seperti tak kenal rasa malu. Memberi dengan berharap mendapatkan yang jauh lebih besar. Bangga karena memberi. Tak pernah sadar bahwa apa yang ada pada kita hanya titipan. Sesuatu yang sungguh tak akan pernah kita bawa mati. Jujur harus diakui, musibah apa pun yang diturunkan Allah selama ini, belum benar-benar mengubah orientasi kita dalam kehidupan bermasyarakat. Di balik semua kekerasan hati kita ini, Allah bersemayam di Kursi Arasy-Nya.

Tampaknya, belum pernah tercatat dalam sejarah kehidupan manusia pasca zaman batu, ada prahara seperti musibah yang begitu akrabnya dengan kita tetapi begitu kerasnya pula hati kita untuk mampu mencerna pesan-pesan ilahiah yang terkandung. Kita baru mampu "memahami" isyarat-isyarat Tuhan dengan gambaran yang kurang familiar dan bahkan kadang menyudutkan-Nya. Padahal Dia sungguh sangat pemaaf. Sangat pemurah. Sangat "manusiawi". Dan yang jelas, Ia selalu tak "sampai hati" menyaksikan hamba-Nya "keleleran". Kemahamurahan-Nya, tetap mengalir walau anak manusia sudah di hadapan-Nya menjelang Hari Hisab. Meski gambaran neraka begitu kuat dan mampu membuat bulu kuduk berdiri kaku, darah berhenti mengalir, harapan tercekat di kerongkongan, denyut jantung berhenti, tetapi rahmat dan maaf Allah melampaui itu semua. Karena itu, marilah bersaing menjadi pemurah dan pemaaf. Di balik semua kejeliataan sikap ini, Allah tak pernah menuntup 'Gerbang' Kekuasaan-Nya bagi semua makhluk manusia.

Syahdan, demikian sahabat Abu Hurairah soal sebuah hadits qudsi dari Baginda Rasul Muhammad [firman Allah yang tak tertulis dalam Alquran] dan diriwayatkan oleh perawi kenamaan Muslim, terdapatlah seorang anak manusia yang mendapatkan tiket urutan paling buncit menjelang berakhirnya Hari Hisab. Ketika semua anak manusia sudah berhadap-hadapan dengan Gusti Allah di hari yang mendebarkan itu, ia berdiri di antara surga dan neraka. Satu kakinya bahkan sudah menyentuh bibir neraka. Tak ada satu titik dzarrah kebaikan pun yang ia miliki. Semua amalannya terkuras, dan tragisnya kini ia justru memikul kedzaliman, kepelitan, ketidakpedulian terhadap sesama, serta prilaku durjana lainnya selama di dunia. Tak ada yang bisa membantunya kecuali Allah. Untuk diketahui, dialah ahli surga yang terakhir memasuki surga. Kalau calon anggota legislatif, ia mendapatkan nomor sepatu, kalau di sekolah ia pemilik ranking ke-30 dari tiga puluh murid, ia seperti kandidat ketua umum sebuah partai yang tidak memenuhi angka penjaringan, ia bak calon penyanyi yang membawa koper karena tidak lolos eliminasi. Begini cerita hadits qudsi tersebut.

Si hamba lalu berseru, "Aduh Tuhanku! palingkanlah mukaku dari api neraka. Baunya menyiksaku dan panasnya membakarku". Maka ia memohon kepada Allah, sesuai dengan kehendak Allah tentang dia yang bermohon kepada-Nya. Lantas berfirman Allah Yang Maha Berkah dan Maha Luhur. "Bukankah bila Aku melakukan hal itu untukmu, engkau akan meminta yang lain?" tanya Gusti Allah. Si hamba menjawab, "Sungguh, hamba tidak akan meminta kepada Engkau yang lain lagi", katanya penuh harap dan cemas.

Lalu ia memberikan kepada Tuhannya yang Maha Agung lagi Luhur berbagai perjanjian dan ikatan, demikian Allah menghendakinya, kemudian Dia memalingkan muka si hamba dari api neraka. Begitu mukanya sudah menghadap ke surga, ia tercekat, terdiam, karena demikianlah yang dikehendaki Allah. "Robbi! Majukanlah hamba ke gerbang surga", katanya merajuk.

"Bukankah telah kauberikan perjanjianmu untuk tidak meminta yang lain selain ini. Bagaimana engkau hai anak Adam! Alangkah khianatnya dirimu", firman Allah menjawabnya. Si hamba lantas bersembah, "Aduh Tuhanku," serunya merajuk, demikian Dia menginginkannya. "Bukankah kalau Aku memberimu yang ini lantas engkau akan meminta yang lain?", tanya Gusti Allah.

Ia bersembah, "Tidak, demi keagungan-Mu," kata si hamba berjanji. Maka Allah pun membawanya ke gerbang surga. Begitu di hadapan si hamba terhampar surga, matanya terbelalak. Ia menyaksikan segala bentuk kegembiraan, dan ia pun terdiam sebagaimana Allah menghendakinya untuk terdiam. "Aduh Tuhanku! Masukkanlah hamba ke dalam surga-Mu. Ya Robbi, janganlah hamba menjadi hamba-Mu yang paling malang", pintanya merayu. Ia terus merajuk, demikian Allah menghendakinya, hingga Allah tertawa karenanya.

Ia lantas berfirman, "Masuklah engkau ke dalam surga!" perintah Allah. Ketika ia melangkah kakinya ke surga, Allah berfirman kepadanya, "Sebutkanlah segala keinginanmu!". Maka si hamba meminta apa saja yang diinginkannya dan yang diangankannya, sampai-sampai Allah menawarkannya ini dan itu yang tidak sempat disebutkan oleh si hamba. Ketika semua cita-citanya sudah habis disampaikan, kepadanya Allah berfirman, "Itu semua jadi milikmu, ditambah lagi dengan yang senilai dengan itu".

Kalau kita mau berdekat-dekatan denga-Nya, lantas apa beratnya kalau kita meniru sikap-Nya agar menjadi pemaaf, berlomba menjadi pemberi, tulus menyantuni saudara yang lagi kekurangan, merasa sama dan sederajat, serta tidak tertawa di atas penderitaan orang lain. Wallahhu A'lamu Bishshowaab

08:55 Posted in Articles | Permalink | Comments (0) | Email this

22/04/2005

Big House

Melihat rumah besar, seringkali orang berkomentar "ih gila, rumah segede ini buat apa aja, gimana ngerawatnya, pasti yang punya orang ka..", dan sebagainya. Wajar kalo ada komentar2 begitu. Dulu juga aku pernah punya anggapan bahwa rumah besar sangat tidak ekonomis, tidak praktis dan membutuhkan biaya operasional yang sangat besar. Pasti itu...

Setelah sekian lama menikah, Alhamdulillah aku diberi kenikmatan untuk tinggal di rumah besar dan menurutku terlalu besar. Terdiri dari 3 lantai. Jumlah kamarnya adalah 14 kamar tidur plus 8 kamar mandi, 1 ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga dan ruang2 lainnya. Maaf, bukan maksud menyombongkan diri. Tapi, begitulah kenyataannya.

Dengan halaman yang luas, banyak pepohonan dan rumput2 hijau terhampar indah. Bukannya tanpa masalah, tiap hari sampah dedaunan yang rontok menjadi pemandangan tetap. Selain harus segera dibersihkan, sampah yang menumpuk juga akan menjadi tidak nyaman dipandang.

Pada awal2 menempati rumah ini, aku kebingungan, untuk apa rumah sebesar ini. Untuk membersihkan tiap kamarnya saja, membutuhkan waktu setengah hari sendiri. Belum lagi kamar mandi. Jadi aku bikin jadwal, hari apa saja untuk membereskan masing2 ruangan.

Tetapi, seiring waktu berjalan...
Ketika keluargaku datang dari Pekalongan. Namanya orang daerah, kalo ke Jakarta kayak bedol deso. Dari ibu, kakak, kakak ipar, adik2, adik ipar2, ponakan2 + mbak2nya, sepupu2, tante2, tetangga, komplit semuanya terbawa. Dengan kedatangan mereka, terisilah separuh rumahku. Kadang mereka datang silih berganti, pernah juga berbarengan, rame2.

Kemudian...
Ketika teman2 suamiku dari luar daerah datang silaturahmi ke rumah dan sekalian bermalam untuk beberapa hari. Tak jarang mereka juga membawa keluarganya. Dan kadang mereka datangnya juga berbarengan dari berbagai (lain) daerah.

Dan...
Ketika ponakan2 suamiku lagi pada datang semua, mereka selalu ngumpul di rumahku. Apalagi pas lagi liburan kayak gini. Jadi Base Camp deh. Mereka merasa nyaman tinggal disini, karena aku biarkan saja mereka mau ngapain, bebas. Konsumsi pun aku sediakan ala kadarnya. Pokoknya, anggap aja rumah sendiri.

Yang terjadi sekarang adalah...

* Karena long weekend, adik2ku pada datang ke Jakarta. Selain itu, karena mereka juga udah lama sekali gak nyambangi aku. Kangen juga, apalagi ponakan (anak dari adikku), aku kangen banget sama dia. Dan biasanya kalo mereka datang, kami tidurnya maunya rame2. Satu kamar cukup.

* Karena ada beberapa seminar dan workshop yang di selenggarakan di Jakarta, beberapa teman2 suamiku dari luar kota (luar daerah), berdatangan dan bermalam. Mereka aku tempatkan di kamar2 berbeda. Untuk privacy aja.

* Karena waktu liburan panjang, ponakan2 suamiku yang dari Gontor pun berdatangan dan semua ngumpul di rumahku...

Akhirnya...
Karena mereka semua datangnya berbarengan, rumahku penuh, kamar2 semua terisi. Rumahku jadi tampak sempit, ruangan kurang. Hehehehe... Yang tadinya tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya, buat apa rumah sebesar ini. Alhamdulillah, Barokah. Tamu yang berdatangan membawa Rahmat. Dan aku tidak boleh menolak kehadiran mereka. Karena "man aamana billaahi wal yaumil aakhir, fal yukrim dhoyfahu"

04:25 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (1) | Email this

Suka duka si Tante

Hehehehe, buat para ponakan2 yang baca ini, enjoy aja yak...

Alkisah, aku menikah dengan seorang pria ganteng dari keluarga yang sangat besar. Sebagai anak bungsu, suamiku punya 9 kakak dan tidak kurang dari 40 ponakan + cucu2 (anak2 dari ponakan2 yang udah pada nikah). Gile booo', kebayang kaaan...

Diantara para ponakan, usianya ada yang seumuran denganku ada juga malah yang lebih tua. Otomatis, walaupun mereka lebih tua, harus manggil dengan sebutan "Tante". Aku sih gak pernah minta, tapi mungkin atas kesadaran mereka sendiri kali ya. Dan, aku juga kagok, masak harus manggil mereka yang lebih tua dengan hanya menyebut nama mereka saja. Sampai sekarang tau, masih canggung, hehehehe... Maafkan Tante ya...

Belum lagi para cucu (anak2 dari ponakan2). Sampai sekarang belum ada kejelasan, mereka harus manggil aku dengan sebutan apa. Masa iya "Tante Nenek" or "Nenek Tante"... hehehe. Kadang, mama mereka membahasakan dengan "Mama Rifdy". Hmmm, lebih fleksibel mungkin dan kliatan lebih nyaman. Tapi giliran anak2 ku yang laen protes, "kok mama Rifdy, kan mama aku juga..."

Saking banyaknya ponakan, sampai aku gak membiasakan untuk memberi bingkisan waktu lebaran or event apapun. Bangkrut gue!!!, hehehe. Kecuali kalo ada yang ulang tahun. Itupun aku batasi dengan ngasih kado ke yang umurnya masih di bawah lima tahun. Hehehe, dasar si Tante pelit yak... hahaha. Tapi, kadang aku pernah juga kok ngajak jalan mereka dan ntraktir ala kadarnya.

Beberapa ponakan yang laki2, mereka sekolah di Gontor. Wah, ini mah ceritanya laen. Kalo lagi berkunjung kesana, pasti tak ketinggalan aku harus bawa oleh2 ala kadarnya dan 'salam tempel' plus ngajak makan mereka. Nilainya beda lho, serasa jadi Tante beneran deh... apalagi kalo mereka minta sesuatu yang mereka malu ngomong ke Oom nya. Nti tinggal bisa2nya aku ngomong ke suamiku.

Sekarang, ponakan2 yang dari Gontor lagi pada libur. Rumahku jadi base camp deh. Ruammmeeeeeeeeee bangeds. Semaleman mereka gak pada tidur, nonton vcd sampe jam 3 pagi. Sebelumnya mereka pada belajar menggunakan YM, terus chattingan sama si Dedot di UK. Malah katanya, mereka pada tidur tergeletak di depan TV. Oooh my ponakan, maafkan Tante ya gak men servis dengan baik. Semalem teler banget. Makanya kalian tak tinggal, Tantenya langsung tidur. Tenang aja, you'll enjoy here...

01:45 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (0) | Email this

18/04/2005

Males Ngomong

ssst... Setelah kejadian2 yang bikin bete, aku jadi 'males ngomong', 'no comment', 'biarin aja', 'bodo amat', 'emang gue pikirin' dan'yang penting gue enak'. Egois ya. Beginilah hidup, kalo dirasa2ni, lucu, aneh, enak, sedih. Nikmati saja...

Gara-gara sakit, aku jadi lebih hati-hati dalam beraktifitas, mengkonsumsi makanan dan istirahat cukup. Terutama mengistirahatkan pikiran. Jadi, kesannya 'bodo amat', mo ada perang kek, yang penting awakku selamet. (sakit gak enak tauk!)

Kalo pas lagi jenguk Ayah di RS, aku pasang aksi 'no comment'. Lha iya, apanya yang mau di komentarin?, orang sakit ya di doain. Jadi, aku lebih banyak dzikir dan baca Qur'an untuk kesembuhan Ayah. Kasian banget, gak tega aku ngliatnya. Dipasang selang dimana-mana. (Ayah, semoga cepet sembuh)

Ngediemin orang berlama-lama, rasanya gak enak juga. Semarah-marahnya aku, cepet kok sembuhnya. Semenjak kejadian itu, aku jadi 'males ngomong'. Yang tadinya aku udah anggep dia dekeeet banget, jadi sekarang aku batasin diri kalo ngomong sama dia. Aku pilah-pilah dulu, mana omongan or nasehat yang perlu disampaikan. Biar dianya juga gak merasa terbebani gaul ama gue. (maafkan teteh)

Masalah anakku yang doyan makan apa aja, aku 'biarin aja'. Mumpung masih doyan makan dan selagi makanannya ada, monggo saja. Lagian, aku kan nyari duit buat anak-anakku. Dan sudah kewajibanku melayani mereka dengan baik sehingga merasa nyaman. (Rifdy, maafkan mama)

Perbuatan staff-staff ku di kantor, 'emang gue pikirin'. Siapa mereka gitu loh. Namanya juga kerjasama, ya ada enak dan enggaknya lah. Kapasitas mereka mungkin cuma segitu, kalo dipaksain, nanti malah error. Pelan-pelan, kudu sabar menyatukan dan menyamakan visi. Perlu waktu. (maaf ya kalo saya galak, tepatnya tegas or whatever lah)

Kejadian di Sahid, aku anggap kenikmatan dan anugerah yang luar biasa, dan 'yang penting gue enak'. Iya dong, aku disini kan bayar, jadi wajar kalo menuntut fasilitas dan servis yang bagus. Dan lagian, nih hotel kan udah bintang tujuh (or whatever), malu kalo servisnya buruk. Kemajuan suatu hotel ditentukan juga oleh kepuasan para customer.

"Robbii anzilnii munzalan mubaarokan..."




12:45 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (0) | Email this

Lagi Bueeettteee

Sejak nge chat sama Dedot seminggu lalu, kreatifitas ku seakan terhenti. Dia mengingatkan supaya aku jangan terlalu terbuka di Blog. Betul juga apa yang dikatakan Dedot, karena kami sebenarnya perlu perlindungan privacy.

BETE 1
Berawal dari aku sakit malam Kamis. Semaleman aku gak bisa tidur. Aku merasakan sangat tidak enak di perutku. Esoknya, aku pergi ke Dokter dan ternyata ada sesuatu yang nyangkut. Setelah di bersihkan (huek!!! sakitnyaaa), aku mengalami blooding yang sangat hebat, sampe lemes. Oleh dokter aku disuruh bedrest total selama 3 hari. Untung aku ditemani Ayat-Ayat Cinta, jadi lumayan deh gak boring2 amat. Bayangin, aku yang biasanya kayak cacing kepanasan, tiba-tiba gak boleh ngapa2in. Bete kaaan...!

BETE 2
Mertuaku kritis. Sampai saat ini masih dirawat di RS. Hampir setiap jam, ada saja panggilan darurat untuk segera berkumpul ke RS. Aku lihat, suamiku sangat murung dan tampak sangat terpukul dengan kondisi Ayah yang gak stabil. Tiap saat dia menangis, yang sebenarnya aku jarang sekali melihat dia begitu. Serba salah, bagaimana seharusnya aku?. Tapi aku selalu ada bersamanya. Sampai pada suatu hari, pas kita lagi kumpul semua di RS, ndilalah ada aja hal2 yang perlu di selesaikan dengan menggunakan mobil, jemput ponakan lah, beli makan siang lah, beli Qur'an lah. Otomatis aku yang jadi sopirnya, padahal aku belum sehat betul. Dalam keadaan lapar, aku bolak-balik entah berapa kali ke RS untuk segala macem urusan. Bete sih, tapi gimana lagi... Ikhlasin aja kali ya...

BETE 3
Malemnya, karena penasaran dengan bukunya Remy Silado, aku iseng buka websitenya Gramedia. Aku baca beberapa sinopsis karya2 dia dan karya2 beberapa penulis muda. Aku juga iseng masuk ke Cafemuslim, dan ngeliat ada yang lagi mojok. Aku tegor, eeeh... malah dia ngatain kalo gue cemburu!!!. Apa maksudnya coba???. Gak mandang banget seh dia gaul ma siapa???. Selama ini aku berusaha mati2an untuk 'mengangkat' dia, tapi kok malahan begitu. Yo wis, pancene cah raono kerjaane ki doyane iseng. Aku jan ra seneng blas, tapi yo mesakno banget. Nek raono sing ngandani, ki bocah suwe2 tambah ra bener. Padahal cah e iku apik, sopan, alus. Cuma mungkin salah gaul thok. Rung telat nek arep di beneri. Bete lagi kaaan...

BETE 4
Memang kalo kerja tanpa didukung oleh interest, susah juga. Kesannya 'bodo amat', pokoknya yang penting 'gue kerja, mo beres kek kagak kek, bukan urusan gue'. Aku paling gak suka kalo ada orang begitu. Dan itu terjadi pada staff ku di kantor. Pagi2 udah bikin aku marah, karena ya begitu itu... gak ada interest sama sekali, gak ada 'ghiroh fil 'amal'. Bikin bete aja...

BETE 5
Sehabis menghadiri pernikahan Lutfi, temen2 pada mau maen ke rumah. Namanya juga markas, ya monggo2 aja. Memang udah lama sekali kami gak ngumpul2. Seperti biasa, kalo kedatangan temen/tamu, aku selalu menyediakan hidangan seadanya. Siang itu kami di temenin bakso, kerupuk bawang dan rengginang. Tak lupa, aku menyuruh mbak menyiapkan pisang goreng. Setelah makan2, kami keliling2 sambil mengenang kembali masa2 dulu sewaktu kami tinggal di asrama. Kembali ke rumah, aku membayangkan pisang goreng hangat segera menyambut. Loh kok, tinggal 6???. Anak gue!!!... kebiasaan buruk kalo ada makanan, pasti langsung di serbu dan tanpa tanggung2. Bete abiiizzz...

BETE 6
Karena suatu hal yang 'min ghoiru laa yahtasib', aku dan anak2 nebeng papanya nginep di Sahid. Lumayan, suasana baru untuk 4 hari ke depan. Aku biarkan anak2 bebas bermain, berenang dan segala macam kebebasan khas mereka. Kamar kami ada fasilitas internet. Lumayanlah, walaupun lambret abizzz, tapi jadi gak boring. Anak2 juga bisa maen game. Tapi kok gak bisa di pake?, gimana sih???. Aku berusaha komplain ke recepsionis, tapi ya begitulah, di cuekin. Sampai akhirnya, aku marah2 dan gak lama, langsung di proses, bahkan kamar kami langsung dipindahkan ke tempat yang view nya lebih bagus. Alhamdulillah... Marahku gak sia-sia. Bete membawa nikmat...

KESIMPULAN
Hidup ini indah. Semakin variatif hidup kita, akan terasa semakin indah. Apapun yang terjadi dalam hidup ini, sebaiknya nikmati saja dan ambil hikmahnya. Tuh buktinya, dari beberapa macam bete, ada juga yang nyebelin dan ada juga yang membawa nikmat. Dan jangan lupa, ikhlas dan sabar juga penting dalam menjalani hidup, bersyukur adalah kunci segalanya. Semoga Allah bersama orang2 yang sabar. Amien...

05:05 Posted in Curhatan | Permalink | Comments (0) | Email this

15/04/2005

With Ayat-Ayat Cinta

Nikmatnya bedrest di kamar. Karena blooding yang aku alami, dua hari ini dokter menyuruhku bedrest total. Benar-benar kunikmati kesempatan ini.

Sambil baca Ayat-Ayat Cinta nya Kang Abik. Uuuh, serrruuu abiiizzz... berbagai perasaan muncul, emosi di aduk-aduk. Gile beneeer tuh novel, Mesir awiii... Jadi mengingatkan aku saat2 berkunjung ke sana. Ada 'ashir mangga, ruzz billaban, kuftah, 'isy, 'ashir ashab, dhab mashri (hehehe), bahkan Babay pun ikut disebut. Cuma satu yang gak disebut, THO'MIYAH... wew, my fave food. Mungkin si penulis gak suka makanan yang sering kusebut 'perkedel arab' itu. Hehehe...

Kesempatanku berkali-kali mengunjungi Negeri Seribu Menara, kumanfaatkan untuk menyelami kehidupan sosial dan mencicipi hidangan khas Mesir yang variatif. Banyak teman-teman yang bisa kuajak jalan.

"Salah satu keindahan hidup di Mesir adalah penduduknya yang lembut hatinya. Jika sudah tersentuh, mereka memperlakukan kita seumpama raja. Mereka terkadang keras kepala, tapi jika sudah jinak dan luluh, mereka bisa melakukan kebaikan seperti malaikat. Mereka kalau marah, meledak-ledak. Tapi kalau sudah benar-benar reda, benar-benar reda dan hilang tanpa bekas. Tak ada dendam di belakang yang diingat sampai tujuh turunan seperti orang Jawa. Mereka mudah menerima kebenaran dari siapa saja", begitulah salah satu penjelasan yang ada di novel tersebut.

Pancene yo ngono iku wong Arab. Atos, rak gelem ngalah, maunya menang sendiri, tapi sebenarnya hatinya sangat lembut. Persis kayak orang BTW... hehehe. Tapi aku menghargainya. Setiap orang pasti punya perasaan begitu, atau lebih halusnya 'egois'. Wajar, untuk self defense.

Banyak nasehat-nasehat bagus yang aku jumpai di novel ini. Bener-bener sebuah novel pembangun jiwa. Gak melulu membahas tentang percintaan, tapi selalu di selingi dalil-dalil dari Qur'an, Hadits dan ijma'2 ulama yang sepertinya sangat dikuasai oleh penulis.

"Teladan orang-orang bercinta adalah Baginda Nabi. Cinta sejati adalah cintanya sepasang pengantin yang telah diridhai Tuhan dan didoakan seratus ribu malaikat penghuni langit. Tak ada perpaduan kasih lebih indah dari pernikahan, demikian sabda Baginda Nabi".

Ya benar, cinta sejati akan muncul secara tiba-tiba antara lelaki dan perempuan apabila keduanya sudah terikat suatu ikatan yang sah dan halal, pada saat tidak ada suatu penghalang apapun. Semua kebaikan dan kejelekan akan terungkap dan kita harus menerima semuanya itu dengan ikhlas.

"Bahwa dalam bersuami istri selalu ada dua kemauan, watak, sifat yang terkadang berbeda. Seni mengolah perbedaan menjadi sebuah keharmonisan, ibadah itulah yang harus diperhatikan".

Aku sangat menikmati novel ini. Hanya butuh waktu sehari semalam, selesai kubaca. Sambil membayangkan tempat-tempat yang mayoritas pernah aku kunjungi. So romantic. Tapi, kotornya itu yang bikin aku gak tahan. Budaya kali ya. Sangat berbeda jauh dengan Singapura yang bersih dan tertib teratur. Tapi, aku gak kapok untuk kembali kesana...

02:45 Posted in Books | Permalink | Comments (1) | Email this

13/04/2005

Sambutlah harimu...

"Barangsiapa menjadikan semua keinginannya itu menjadi satu, yaitu keinginan terhadap akhirat, maka Allah akan mencukupkan keinginan dunianya. Dan, barangsiapa yang banyak sekali keinginannya terhadap permasalahan dunia, maka Allah tidak akan mempedulikannya di lembah mana dia hancur"

Ikutilah orang-orang yang gembira
Dan berlindunglah kepada kesabaran
Niscaya akan bahagia

Yang menggelapkan hari-hari dihujat
Tanpa alasan yang jelas

Kau baik kepada kami
Meski tak pernah dibalas terima kasih
Dan kau cegah kami dari dosa
Tapi mereka tak pernah merasa berdosa

Kebijaksanaan Allah adalah
Sebuah kemenangan dari keteguhan hati
Dari sempit ke luar,
Dan dari kesedihan ke arah kegembiraan

Rasa takut yang mencekik itu
Kini berubah menjadi suka cita
Kegembiraan telah menghapus duka
Tidaklah seseorang bersedih selamanya
Pasti senyuman itu akan datang juga

Jika bersedih,
Panggillah jiwamu dengan harapan sebagai janji
Karena kebaikan bagi jiwa
Adalah adanya janji
Jadikan harapanmu menjadi perisai
Hingga waktu akan menghapus kesedihan itu

Kesedihan itu tidak akan abadi
Seperti juga kesenangan tidak akan lestari
Kalau saja bukan karena hal yang mempengaruhi jiwa
Pasti tak akan ada kehidupan
Yang lurus bagi orang yang terjaga

14:45 Posted in Life | Permalink | Comments (0) | Email this

12/04/2005

Untukmu wahai kekasihku...

Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi wangi bunga, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha, salam suci sesuci telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya...

Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca tulisan ini, anggaplah aku ada di hadapanmu dan menangis sambil mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.

Wahai orang yang lembut hatinya...

Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku.

Wahai orang yang lembut hatinya...

Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu, karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera dalam relung jiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya...

Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan, aku akan selalu mendampingimu dengan penuh rasa cinta.

Wahai orang yang lembut hatinya...

Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikitpun menuliskan ini semua. Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu, tapi apa yang bisa dibuat oleh makhluk dhaif seperti diriku.

Wahai orang yang lembut hatinya...

Apakah aku salah menuliskan ini semua?. Segala yang saat ini menderu di dalam dada dan jiwa. Aku merasa kau datang dengan seberkas cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu...

12:00 Posted in Love | Permalink | Comments (0) | Email this

11/04/2005

I care about you

Teman adalah hadiah dari Allah SWT buat kita

Seperti hadiah,
Ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek

Yang bungkusnya bagus,
Punya wajah rupawan atau kepribadian yang menarik
Yang bungkusnya jelek,
Punya wajah biasa saja atau kepribadian yang malah menjengkelkan

Seperti hadiah,
Ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek

Yang isinya bagus, punya jiwa yang begitu indah
Sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya
Ketika kita tahan menghabiskan waktu saling bercerita
Menghibur, menangis dan tertawa bersama
Kita mencintai dia dan dia mencintai kita

Yang isinya buruk, punya jiwa yang terluka
Begitu dalam lukanya,
Sehingga jiwanya tak mampu lagi mencinta,
Justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya
Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali,
Sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah

Kita tidak suka dengan jiwa semacam ini
Dan mencoba menghindar dari mereka
Kita tidak tahu bahwa itu semua
BUKANlah karena mereka pada dasarnya buruk
Tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta
Karena justru ia membutuhkan cinta kita
Membutuhkan empati kita
Kesabaran dan keberanian kita
Untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita?

Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama?

Luka di lututnya dan ketakutan terhadap air lah yang mesti disembuhkan,
Bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita

Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air"
Mereka akan bilang bahwa "berenang itu membosankan"

It's a defense mechanism
Itulah cara mempertahankan diri

Mereka tidak akan bilang : "aku tidak bisa menari"
Mereka akan bilang : "menari itu tidak menarik"

Mereka tidak akan bilang : "aku membutuhkan kamu"
Mereka akan bilang : "tidak ada yang cocok denganku"

Mereka tidak akan bilang : "aku kesepian"
Mereka akan bilang : "temen2 ku sudah pada jauh"

Mereka tidak akan bilang : "aku butuh diterima"
Mereka akan bilang : "aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku?"

Mereka tidak akan bilang : "aku ingin didengarkan"
Mereka akan bilang : "kisah hidupku membosankan"

Mereka semua hadiah buat kita,
Entah bungkusnya bagus atau jelek
Entah isinya bagus atau jelek
Dan jangan tertipu oleh kilaunya emas

Hanya ketika kita bertemu jiwa,
Kita tahu hadiah sesungguhnya
Yang sudah disiapkan-Nya buat kita
Berikanlah makna di dalam kehidupan kita
Bukan hanya untuk diri kita sendiri saja
Melainkan juga untuk membahagiakan sesama manusia
Di dalam lingkungan kehidupan kita
Berikanlah waktu kita dengan digabung oleh rasa kasih

Yesterday is history
Tomorrow is mistery
Today is a gift
That's why it's called the present

Seorang sahabat sama seperti satu permata
Yang tak ternilai harganya

Seorang kawan bisa membuat kita ceria
Membuat kita terhibur
Mereka meminjamkan telinganya kepada kita
Pada saat kita membutuhkannya
Kala kita bahagia, merekapun turut bahagia
Kala kita sedih, mereka akan berusaha untuk
Membahagiakan kita
Itulah arti dari sebuah teman

Mereka bersedia membuka hati
Maupun perasaannya
Untuk berbagi suka dan duka dengan kita
Pada saat kita membutuhkannya

Maka dari itu
Janganlah buang waktu yang kita miliki
Janganlah sia-siakan waktu yang demikian berharga

Bagikanlah sebagian dari waktu yang kita miliki
Untuk seorang kawan
Pasti waktu yang kita berikan tersebut
Akan berbalik kembali
Seperti satu lingkaran
Walaupun kita terkadang
Tidak tahu dari mana dan dari siapa datangnya

Mulailah kita awali persahabatan baru dengan membagi waktu kita sejenak untuk memahami isi hati kawan dan sahabat kita dengan ucapan :

"i care about you"





All the posts